Apa Itu Stamp Hunting? Menjadi Kolektor Stempel untuk Simpan Kenangan

16 October 2026
Apa Itu Stamp Hunting? Menjadi Kolektor Stempel untuk Simpan Kenangan
Menilik stamp hunting, tren berburu stempel yang digandrungi saat ini.

#HappeningToday — Grameds, stamp hunting adalah sebuah frasa dalam bahasa inggris yang memiliki arti berburu stempel. Pada dasarnya, kegiatan ini adalah kegiatan mengoleksi stempel yang ditemukan dari berbagai tempat. 


Kegiatan ini bisa dilakukan di tempat-tempat publik yang menyediakan stempel, seperti sebuah museum atau stasiun kereta api. Biasanya, tempat yang memiliki stempel khusus untuk dikoleksi akan mengumumkannya melalui unggahan media sosial atau poster di sekitar lokasi tersebut. 


Apa Manfaat dari Stamp Hunting?

Sebenarnya, tidak ada manfaat khusus dalam melakukan stamp hunting. Seseorang tidak selalu melakukannya untuk mendapatkan suatu hadiah khusus.


Utamanya, stamp hunting dilakukan untuk menyimpan kenangan, karena stempel-stempel ini hanya bisa dilakukan di beberapa tempat saja. Jadi, stempel-stempel itu dikumpulkan untuk menandai tempat mana saja yang sudah dikunjungi. Misalnya, suatu cetakan stempel yang didapat dari sebuah museum menandai bahwa kamu sudah mengunjungi museum tersebut.


Stempel yang sudah dikumpulkan pun bisa menjadi koleksi. Selain menandai kamu sudah mengunjungi tempat tersebut, bisa jadi kamu ingin melengkapi koleksi stempel dengan mengunjungi museum lainnya. Karena itu, berburu stempel bisa berkembang menjadi hobi mengoleksi.


Stamp Hunting Dilakukan Menggunakan Apa?

Jika kamu ingin mulai stamp hunting, mungkin kamu berpikir barang apa saja yang dibutuhkan. Namun, kamu tidak membutuhkan barang terkhusus, melainkan hanya sebuah buku atau kertas kosong. Juga tidak ada kriteria atau syarat khusus untuk buku stempel milikmu. Kamu bisa menggunakan buku apa saja, bahkan buku catatan yang sudah terisi sebelumnya. 


Namun, kamu bisa menggunakan buku tulis dengan kertas polos yang tidak bergaris untuk hasil yang lebih optimal. Dengan kertas polos, desain stempel yang dikumpulkan tidak akan tertutup oleh garis-garis kertas. Kamu juga bisa menggunakan gramasi kertas yang lebih tebal. Dengan kertas yang lebih tebal, tinta tidak akan luntur ke halaman belakang dan mengganggu stempel yang akan kamu kumpulkan. 


Terkadang, institusi yang menyediakan kegiatan stamp hunt seperti pada museum atau stasiun kereta api, akan menyediakan kertas khusus atau menjual buku berbentuk paspor untuk stempel yang dikumpulkan. Dengan ini, kamu juga mengoleksi buku atau kertas-kertas tersebut.


Namun, tentu saja ini bukan aturan kaku. Kamu selalu bisa menyesuaikan penggunaan buku koleksi stempel sesuai kebutuhanmu. Hobi ini tidak terbatas hanya pada orang yang harus beli buku baru. Kamu selalu bisa menggunakan buku yang sudah kamu punya. 


Dimulai dari Jepang, Sekarang Bisa Stamp Hunt di Mana Saja

Walaupun cenderung baru di Indonesia, stamp hunting merupakan sebuah budaya yang diadopsi dari Jepang. Stempel yang bisa dikumpulkan di Jepang disebut eki stamps. 


Eki stamps bisa ditemukan di stasiun-stasiun kereta di Jepang. Dengan mengumpulkan eki stamps, seseorang bisa menandai lokasi-lokasi yang sudah ia kunjungi dengan stempel tersebut sebagai bukti. 


Budaya stempel ini cukup populer di media sosial. Karenanya, sekarang konsep ini diadopsi di banyak lokasi, seperti sebuah event, pemberhentian transportasi umum, atau museum. Misalnya, pada sebuah event bazar, kamu bisa mengoleksi stempel dari penyelenggara untuk menandai kamu telah menghadiri acara tersebut. Stempel juga bisa dikoleksi di museum, untuk menandai museum apa saja yang telah kamu kunjungi. 


Berburu Stempel Museum di Indonesia

Beberapa museum di Indonesia menyediakan kegiatan stamp hunt juga, loh. Utamanya, kamu bisa mengoleksi stempel yang disediakan dari museum yang dikelola Indonesia Heritage Agency, seperti Museum Nasional, Galeri Nasional Indonesia, Museum Perjuangan Yogyakarta, Museum Semedo Tegal, dan museum lainnya. 


Indonesia Heritage Agency juga merilis museum passport atau paspor museum yang bisa dipakai untuk mengoleksi stempel dari museum yang telah kamu kunjungi. IHA juga melampirkan voucher tiket museum gratis yang sudah tercetak dalam halaman paspor untuk 16 museum terpilih. Museum-museum ini diantaranya:

  • Museum Nasional 
  • Galeri Nasional Indonesia
  • Museum Kebangkitan Nasional
  • Museum Semedo
  • Rumah Bekas Kediaman Bung Karno Bengkulu
  • Museum Benteng Vredeburg
  • Museum Perjuangan Yogyakarta
  • Museum Manusia Purba Sangiran
  • Museum Song Terus
  • Museum Islam Indonesia K.H. Hasyim Asy'ari

Karena banyak peminat, museum passport ini seringkali habis dibeli dan sulit dicari. Namun, museum passport saat ini telah tersedia kembali di toko buku Gramedia Matraman, Gramedia Jalma, dan Gramedia.com. Yuk, beli sebelum kehabisan!


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.