Mengenal Istilah Tsundoku: Kebiasaan Membeli Buku Tanpa Sempat Membacanya

24 April 2026
Mengenal Istilah Tsundoku: Kebiasaan Membeli Buku Tanpa Sempat Membacanya
Tumpukan baru, cerita baru yang menunggu dibuka.

#LiterasiAsik — Pernah membeli buku karena menarik, tapi akhirnya hanya disimpan di rak tanpa sempat dibaca? Atau justru terus menambah koleksi buku meski beberapa di antaranya belum tersentuh? Nah, Grameds, bisa jadi kamu sedang mengalami tsundoku.

Fenomena ini cukup umum terjadi, utamanya di kalangan pecinta buku. Lalu, apa itu tsundoku dan bagaimana cara menyikapinya?


Apa itu Tsundoku?

Tsundoku adalah istilah dari Jepang yang merujuk pada kebiasaan membeli buku, tetapi tidak langsung membacanya, hingga akhirnya buku-buku tersebut terus menumpuk.

Istilah ini berasal dari gabungan kata tsunde-oku (menumpuk sesuatu untuk nanti) dan dokusho (membaca buku). Meski terdengar sederhana , tsundoku menjadi fenomena yang cukup umum, terutama di kalangan pecinta buku.


Kenapa Tsundoku Bisa Terjadi?

Ada beberapa alasan mengapa seseorang bisa mengalami tsundoku, dan seringkali terjadi tanpa disadari, diantaranya:

1. Rasa antusias saat menemukan buku yang menarik
Terkadang seseorang bisa merasa buku tersebut harus dimiliki, meskipun belum tentu langsung dibaca. Jadi, rasa ingin memiliki buku sering kali lebih besar daripada kesiapan untuk membacanya. 

2. Keinginan untuk terus belajar atau menambah wawasan
Membeli buku seringkali terasa seperti langkah awal untuk menjadi lebih produktif, meski akhirnya belum sempat direalisasikan.

3. Keterbatasan waktu 
Di tengah aktivitas yang padat, waktu membaca menjadi hal yang tertunda, sementara daftar buku yang ingin dibaca terus bertambah.

4. FOMO
Membeli buku karena sedang tren sebenarnya merupakan hal yang wajar, tetapi membaca bukan hanya soal mengikuti apa yang sedang populer, tetapi tentang menemukan kecocokan antara isi bacaan dan diri sendiri.


Apakah Tsundoku Itu Buruk?

Tsundoku tidak bisa dikatakan sebuah penyakit atau sindrom karena belum ada penelitian medisnya, hanya istilah yang muncul. Tsundoku juga bukan berarti seorang malas membaca. Justru, kebiasaan ini menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap buku dan keinginan untuk terus belajar.

Banyak orang melihat tumpukan buku sebagai reading list yang baru akan dibaca suatu saat. Bahkan memiliki banyak buku yang belum dibaca bisa menjadi pengingat bahwa masih banyak hal yang bisa dipelajari.


Bagaimana Cara Menyikapinya?

Jika mulai merasa kewalahan dengan tumpukan buku, kamu bisa mencoba beberapa cara berikut:

  • Mulai lebih selektif saat membeli buku, sesuaikan dengan waktu membaca yang dimiliki
  • Prioritaskan buku yang paling menarik perhatian untuk dibaca lebih dulu
  • Luangkan waktu khusus untuk membaca, meski hanya beberapa menit setiap hari
  • Hindari membeli buku baru sebelum menyelesaikan beberapa buku yang sudah dimiliki
  • Ingat bahwa membaca adalah proses yang dinikmati, bukan sekadar diselesaikan

Pada akhirnya, membaca bukan soal seberapa banyak buku yang dimiliki, tetapi bagaimana kita menikmati prosesnya

Di tengah banyaknya pilihan bacaan, tsundoku menjadi hal yang wajar terjadi. Yang terpenting, jangan sampai tumpukan buku justru membuat kita lupa untuk menikmati isi di dalamnya.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.