Sherina Bintangi Film Filosofi Teras, Kenali Dulu Makna di Balik Bukunya

03 March 2026
Sherina Bintangi Film Filosofi Teras, Kenali Dulu Makna di Balik Bukunya
Sumber : Instagram @filmfilosofiteras

#HappeningToday — Kabar bahwa Sherina Munaf akan terlibat dalam film adaptasi Filosofi Teras langsung menarik perhatian publik. Namun, sebelum menyaksikan versi karya lebarnya, ada baiknya kita memahami lebih dalam makna dan latar belakang buku yang telah mengubah cara banyak orang memandang hidup ini.

Lahir dari Pengalaman Personal 

Filosofi Teras merupakan karya Henry Manampiring yang pertama kali terbit pada 2018. Buku ini tidak hanya menjadi pengantar filsafat populer. Buku ini lahir dari pengalaman personal sang penulis yang pada 2017 didiagnosis mengalami major depressive disorder

Dalam proses pengobatannya, Henry menemukan buku How to Be a Stoic karya Massimo Pigliucci. Dari sanalah ia berkenalan dengan ajaran stoisisme yang merupakan sebuah aliran filsafat Yunani kuno yang terasa seperti "terapi tanpa obat". Dengan mempraktikkan ajaran tersebut, ia merasa lebih tenang dan mampu mengelola emosi negatifnya. 

Karena belum banyak buku berbahasa Indonesia yang membahas stoisisme secara praktis dan relevan dengan konteks yang lebih modern, Henry pun menulis FIlosofi Teras dengan harapan pembaca Indonesia bisa menemukan ketenangan yang sama. Alih-alih terasa berat atau akademis, pembahasannya justru dikemas dengan bahasa ringan dan contoh yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Apa itu Stoisisme?

Stoisisme berasal dari ajaran Zeno of Citium. Kata “stoa” sendiri merujuk pada serambi atau teras Zeno mengajar murid-muridnya. Dari sinilah judul Filosofi Teras muncul yang merupakan bentuk terjemahan yang lebih mudah diucapkan dan terasa akrab di telinga pembaca Indonesia.

Stoisisme merupakan ajaran yang berfokus pada pengelolaan pikiran secara rasional untuk mencapai ketenangan batin yang lebih stabil. Filsafat ini mengajak seseorang untuk tidak dikuasai oleh emosi yang muncul secara reaktif, seperti kemarahan berlebihan atau rasa takut. Seorang penganut Stoik bukan berarti menekan atau menghilangkan perasaan, melainkan melatih diri agar mampu merespons emosi dengan lebih terkendali dan bijaksana.

Seorang penganut Stoisisme menempatkan ketahanan mental sebagai prioritas utama, yakni kemampuan untuk tetap teguh meski menghadapi hal-hal di luar kendalinya. Dalam pandangan ini, kebahagiaan tidak ditentukan oleh harta, pujian, atau status sosial, melainkan oleh kualitas sikap dan kebajikan yang dimiliki seseorang. Tujuan akhirnya adalah mencapai eudaimonia, yaitu kehidupan yang bermakna, dijalani dengan kebajikan, serta selaras dengan nilai dan tatanan kehidupan yang lebih luas.

Apa makna di balik buku ini?

Secara sederhana, Filosofi Teras mengajak pembaca untuk memahami satu hal penting: tidak semua hal berada dalam kendali kita. Buku ini menyoroti bagaimana sering kali rasa cemas, marah, atau kecewa muncul karena kita terlalu fokus pada hal-hal di luar kuasa diri sendiri seperti pendapat orang lain, situasi yang tak terduga, atau masa depan yang belum pasti.

Melalui pembahasan ringan dan contoh-contoh konkret, buku ini membantu pembacanya untuk belajar memilah mana yang bisa dikendalikan dan mana yang perlu diterima. Dari situ, muncul cara pandang yang lebih tenang dalam menghadapi masalah, tekanan pekerjaan, konflik relasi, hingga kekhawatiran sehari-hari. 

Tak heran jika banyak anak muda merasa relate dengan isi buku ini. Di tengah era serba cepat dan penuh distraksi, gagasan tentang menjaga pikiran tetap rasional dan tidak reaktif terasa semakin relevan. Filosofi Teras menjadi semacam pengingat untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan melihat persoalan dengan lebih jernih.

Buku Filosofi Teras

Dengan diangkatnya buku ini ke layar lebar, publik tentu penasaran bagaimana gagasan yang selama ini hadir dalam bentuk narasi akan diterjemahkan menjadi cerita visual. Apakah esensi ketenangan dan pengendalian diri yang menjadi inti bukunya bisa terasa kuat dalam format film?

Sebelum menyaksikan versi sinemanya nanti, mungkin ini saat yang tepat untuk mengenal atau kembali membaca Filosofi Teras dan memahami pesan yang membuatnya begitu berkesan bagi banyak orang.

Jadi, Grameds, sudah siap melihat bagaimana makna di balik Filosofi Teras diterjemahkan ke layar lebar? Atau justru jadi makin penasaran untuk membaca bukunya lebih dulu?


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.