Gramedia Perluas Ekosistem Literasi di 2026, Hadirkan Eka Kurniawan dalam Dialog Bersama Media

11 March 2026
Gramedia Perluas Ekosistem Literasi di 2026, Hadirkan Eka Kurniawan dalam Dialog Bersama Media
Diskusi buku bersama Eka Kurniawan dalam kegiatan media gathering JEDA Gramedia.

Jakarta, 10 Maret 2026 — Gramedia menggelar kegiatan media gathering bertajuk JEDA: Jendela Edukasi & Dialog Media di Tjikini Lima, Jakarta Pusat, Selasa (10/3). Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara Gramedia dan media untuk membahas perkembangan literasi, arah program Gramedia di tahun 2026, serta memperkuat kolaborasi dalam mendorong budaya membaca di Indonesia. 

Acara ini menghadirkan Director of Corporate Secretary, Yosef Adityo Nugroho, yang memaparkan berbagai capaian, inovasi, serta rencana pengembangan ekosistem Gramedia ke depan. Dalam pemaparannya, Gramedia menegaskan komitmennya untuk terus memperluas akses terhadap buku, pengetahuan, dan inspirasi melalui jaringan ritel yang luas, platform digital, serta kolaborasi dengan komunitas dan institusi pendidikan.

Director of Corporate Secretary, Yosef Adityo Nugroho memaparkan perkembangan dan rencana pengembangan ekosistem Gramedia kepada media.

Saat ini Gramedia memiliki 148 toko yang tersebar di berbagai kota di Indonesia dan menargetkan ekspansi hingga 15 toko baru pada tahun 2026 sebagai bagian dari penguatan jaringan ritel dan ekosistem literasi di berbagai daerah. 

Selain memperluas jaringan toko, Gramedia juga terus menghadirkan inovasi melalui pengembangan konsep outlet baru yang dirancang untuk memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung. Beberapa konsep tersebut antara lain Gramedia Jalma, Prose & Petals, dan Makarya, yang menggabungkan elemen literasi, kreativitas, serta gaya hidup dalam satu ruang inspiratif. Pada tahun 2026, Gramedia juga akan menghadirkan Gramedia Jalma Pandanaran di Semarang, yang menjadi cabang terbaru dari konsep Gramedia Jalma. Kehadiran konsep-konsep inovatif ini merupakan bagian dari transformasi Gramedia dalam menghadirkan pengalaman literasi yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini, sekaligus memperkuat posisinya sebagai literacy & lifestyle ecosystem yang menghubungkan buku, komunitas, kreativitas, dan ruang inspirasi. 

“Selama 56 tahun, Gramedia tidak hanya hadir sebagai jaringan toko buku, tetapi juga sebagai ruang bertemunya ide, pengetahuan, dan kreativitas. Melalui berbagai inovasi dan kolaborasi, kami ingin memastikan literasi dapat diakses lebih luas oleh masyarakat Indonesia,” ujar Yosef Adityo.

Selain pengembangan jaringan toko, Gramedia juga terus memperkuat portofolio homebrand yang berfokus pada produk kreatif dan kebutuhan gaya hidup. Melalui brand seperti Estudee untuk kebutuhan alat tulis dan sekolah, Eversac untuk tas dan produk lifestyle, serta Kukiko untuk produk kreatif anak, Gramedia menghadirkan berbagai pilihan produk yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Gramedia juga memperluas ekosistemnya hingga ke industri kreatif melalui rumah produksi miliknya, Rekata Studio, yang menjembatani dunia literasi dengan industri film. Salah satu karya yang akan hadir tahun ini adalah film “Para Perasuk” yang dijadwalkan tayang pada 23 April 2026. Melalui Rekata Studio, Gramedia berupaya mengadaptasi cerita dan gagasan dari dunia literasi menjadi karya audio-visual yang dapat menjangkau audiens yang lebih luas. 

Selain sesi pemaparan mengenai strategi dan inovasi Gramedia, kegiatan JEDA juga menghadirkan diskusi buku bersama penulis Indonesia, Eka Kurniawan, yang berbagi cerita mengenai proses kreatif penulisan, inspirasi di balik karya-karyanya, serta pandangannya terhadap perkembangan dunia literasi dan pembaca di Indonesia. Dalam perbincangan tersebut, Eka juga membagikan sedikit gambaran mengenai novel terbarunya yang berjudul Coreng Hitam, yang direncanakan akan segera terbit setelah Lebaran.

Eka menjelaskan bahwa Coreng Hitam berangkat dari gagasan sederhana tentang “noda” dalam kehidupan manusia. Ia mengajak pembaca merefleksikan bagaimana seseorang memandang kesalahan, kekurangan, atau hal yang dianggap mengganggu dalam hidup. “Kalau kita memiliki noda atau coreng dalam hidup, apa yang kita lakukan? Lalu bagaimana jika kita melihat orang yang menyebalkan dan kemudian kita menganggapnya sebagai ‘coreng hitam’ dalam hidup kita?” ujar Eka, menggambarkan ide dasar yang menjadi benang merah dalam novel tersebut.

Editor Senior Sastra Gramedia Pustaka Utama, Mirna Yulistianti, turut mengungkapkan bahwa novel terbaru Eka akan menghadirkan pendekatan tema yang berbeda dibandingkan karya-karya sebelumnya. Ia juga menyebut bahwa novel tersebut akan hadir dalam format yang cukup tebal, mendekati 500 halaman. Menurut Mirna, seperti karya-karya Eka sebelumnya, novel ini tetap membawa tema yang berani dan tidak selalu berada di wilayah yang “aman”. “Karya-karya Eka selama ini selalu menggugat pembacanya, kadang bahkan disalahartikan oleh pembaca. Novel barunya pun memiliki semangat yang sama,” ujarnya.

Kehadiran sesi diskusi ini menjadi kesempatan bagi rekan media untuk melihat lebih dekat proses kreatif seorang penulis yang karya-karyanya telah dikenal luas, baik di tingkat nasional maupun internasional, sekaligus memberikan gambaran awal mengenai karya terbaru yang akan segera hadir bagi para pembaca Indonesia.

Sepanjang tahun 2026, Gramedia juga akan menghadirkan berbagai program literasi dan kegiatan komunitas untuk menjangkau lebih banyak masyarakat. Beberapa program utama yang akan diselenggarakan antara lain Pesta Literasi Indonesia, festival literasi yang menghadirkan diskusi buku, workshop, pameran seni, hingga pertunjukan berbasis cerita dari buku; Happy Family Coloring, lomba mewarnai anak yang mengajak keluarga berpartisipasi dalam aktivitas kreatif sekaligus kegiatan sosial; serta CERIA: Cerita Anak Gramedia, program literasi nasional berbasis lomba kepenulisan bagi anak-anak Indonesia.

Selain itu, Gramedia juga terus menjalankan berbagai inisiatif edukasi dan literasi lainnya seperti Ngaji Literasi yang menyasar institusi pendidikan, hingga berbagai program komunitas berbasis minat yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk belajar, berkarya, dan berkolaborasi.

Melalui program JEDA: Jendela Edukasi & Dialog Media ini, Gramedia berharap dapat memperkuat hubungan dengan media sebagai mitra strategis dalam menyebarkan semangat literasi kepada masyarakat. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya Gramedia untuk membangun ekosistem literasi yang tidak hanya berfokus pada buku, tetapi juga mencakup komunitas, edukasi, kreativitas, dan gaya hidup. Inisiatif ini diharapkan dapat terus memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia dan mendorong literasi untuk #TumbuhBermakna.