Innovation, Transformed.

Bersama Gramedia, menginspirasi Indonesia menuju masa depan yang cemerlang.

Who we are?

Gramedia berdiri pada tahun 1970, PT Gramedia Asri Media atau kerap dikenal menjadi Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group.
56 Tahun
#TumbuhBermakna
3513 Pegawai
Di seluruh Indonesia
1700+ Buku
Tercetak di Indonesia selama tahun 2024
1000+ Events
Berhasil dilaksanakan
Temukan kisah dan perjalanan kami disini!

Terus berkembang melampaui batas, membentuk masa depan yang lebih cerah melalui brand.

PT Gramedia Asri Media atau Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group yang berfokus pada bisnis ritel dengan buku, alat tulis, produk non-books sebagai produk utamanya. Selain itu, Gramedia juga bergerak di bidang pendidikan untuk kemajuan pengetahuan di nusantara.
Pelajari lebih lanjut tentang brand

Testimonials

Apa kata mereka tentang Gramedia?
Dr. Andreas
“Senang bisa collab dengan Penerbit Gramedia, karena bisa nerima ide-ide yang unik dari penulisnya!”
Dr. Andreas, Penulis
Brian Khrisna
“Sejak kecil, saya suka banget dateng ke Gramedia dan saya termotivasi kalo suatu saat buku saya harus ada di Gramedia, dan akhirnya bisa nerbitin buku di Gramedia.”
Brian Khrisna, Penulis
Yoyok
“Promexx sudah menjalin kerjasama dengan Gramedia lebih dari 20 tahun, dan selama menjalin kemitraan kedua belah pihak mendapat benefit yang bagus.”
Yoyok, Mitra Gramedia

Latest updates

See all
Selain IPK, Ini 7 Soft Skill yang Banyak Dicari Perusahaan Saat Rekrutmen
10 June 2026

Selain IPK, Ini 7 Soft Skill yang Banyak Dicari Perusahaan Saat Rekrutmen

#CareerSpotlight — Grameds, memiliki kemampuan teknis atau IPK yang baik memang penting saat memasuki dunia kerja. Namun, di tengah persaingan yang semakin ketat, banyak perusahaan juga mencari kandidat yang memiliki kemampuan lain yang dapat membantu mereka berkembang, berkolaborasi, dan menghadapi berbagai tantangan di lingkungan kerja.

Beberapa kemampuan tersebut dikenal sebagai soft skill. Berbeda dengan hard skill yang dapat dipelajari secara teknis, soft skill berkaitan dengan cara seseorang berinteraksi, berpikir, dan mengambil keputusan. Lalu, apa saja soft skill yang dapat membuatmu lebih menonjol di dunia kerja?


1. Public Speaking
Kemampuan berbicara di depan orang lain tidak hanya dibutuhkan oleh pembicara profesional. Dalam dunia kerja, public speaking membantu seseorang menyampaikan ide, mempresentasikan proyek, hingga membangun komunikasi yang lebih efektif dengan rekan kerja maupun klien

Kemampuan public speaking ini juga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan membuat seseorang lebih mudah menyampaikan gagasan secara jelas dan terstruktur.


2. Negotiation
Negosiasi bukan hanya soal tawar-menawar. Kemampuan ini berkaitan dengan cara menemukan solusi yang menguntungkan berbagai pihak saat menghadapi perbedaan pendapat atau kepentingan.

Di dunia kerja, keterampilan negosiasi dapat membantu saat berdiskusi dengan tim, berkoordinasi dengan klien, maupun mengambil keputusan yang melibatkan banyak pihak. Orang yang mampu bernegosiasi dengan baik biasanya lebih mudah membangun hubungan profesional yang positif


3. Networking
Membangun jaringan profesional menjadi salah satu keterampilan yang semakin penting di era saat ini. Networking bukan sekadar menambah kenalan, tetapi juga membangun hubungan yang saling mendukung dan bermanfaat dalam jangka panjang.

Melalui networking, seseorang dapat memperoleh informasi baru, peluang karir, hingga wawasan dari orang-orang yang memiliki pengalaman berbeda. Tidak sedikit kesempatan kerja yang justru datang dari hubungan profesional yang telah dibangun sebelumnya.


4. Leadership
Leadership atau kepemimpinan tidak selalu berarti menjadi manajer atau pemimpin tim. Kemampuan ini juga mencakup kemampuan mengambil tanggung jawab, memberikan arahan, dan menjadi contoh yang baik dalam lingkungan kerja.

Perusahaan sering menghargai individu yang mampu menunjukkan inisiatif dan membantu tim mencapai tujuan bersama. Karena itu, kemampuan kepemimpinan dapat menjadi nilai tambah yang penting dalam perkembangan karier.


5. Critical Thinking
Critical thinking atau berpikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisis informasi secara objektif sebelum mengambil kesimpulan atau keputusan. Kemampuan ini membantu seseorang memahami suatu masalah dari berbagai sudut pandang dan tidak mudah terpengaruh oleh asumsi atau informasi yang belum tentu benar.

Di dunia kerja, kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah, mengevaluasi berbagai pilihan, serta menghasilkan solusi yang lebih efektif dan tepat sasaran.


6. Decision Making
Setiap hari, dunia kerja dipenuhi berbagai keputusan, mulai dari hal sederhana hingga keputusan yang berdampak besar terhadap pekerjaan. Karena itu, kemampuan mengambil keputusan menjadi salah satu soft skill yang banyak dihargai perusahaan.

Kemampuan ini melibatkan proses menganalisis informasi, mempertimbangkan risiko, serta menentukan langkah yang paling tepat dalam suatu situasi. Semakin baik kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan, semakin besar pula kepercayaan yang diberikan kepadanya.


7. Project Management
Salah satu soft skill yang sering kali tidak disadari penting oleh banyak orang adalah project management. Banyak yang menganggap kemampuan ini hanya dibutuhkan oleh seorang manajer atau pemimpin proyek, padahal hampir setiap pekerjaan melibatkan pengelolaan tugas, waktu, sumber daya, dan koordinasi dengan orang lain.

Kemampuan project management membantu seseorang merencanakan pekerjaan, menentukan prioritas, mengatur jadwal, serta memastikan target dapat tercapai sesuai tenggat waktu. Keterampilan ini juga melatih kemampuan komunikasi, koordinasi, dan penyelesaian masalah dalam satu waktu.


Cara Mengembangkan Soft Skill

Kabar baiknya, soft skill bukan kemampuan yang hanya dimiliki oleh sebagian orang sejak lahir. Sama seperti keterampilan lainnya, soft skill dapat dilatih dan dikembangkan melalui pengalaman serta kebiasaan sehari-hari.

Ada banyak cara sederhana yang bisa dilakukan untuk mulai mengasah berbagai soft skill tersebut, antara lain:

  • Mengikuti organisasi, komunitas, atau kepanitiaan untuk melatih kepemimpinan dan project management.
  • Aktif berdiskusi atau presentasi untuk meningkatkan kemampuan public speaking dan critical thinking.
  • Memperluas relasi melalui seminar, workshop, atau kegiatan profesional untuk membangun networking.
  • Berlatih mengambil keputusan dalam berbagai situasi dan berani bertanggung jawab atas hasilnya.
  • Membiasakan diri mencari solusi saat menghadapi masalah untuk melatih kemampuan negosiasi dan decision making.

Semakin sering keterampilan tersebut digunakan dalam kehidupan sehari-hari, semakin terasah pula kemampuan yang akan sangat berguna saat memasuki dunia kerja.


Soft Skill Membantu Kamu Berkembang di Dunia Kerja

Meski kemampuan teknis tetap penting, soft skill seringkali menjadi faktor yang membedakan seseorang di lingkungan kerja. Kemampuan berkomunikasi, membangun relasi, memimpin, hingga mengambil keputusan dapat membantu seseorang berkembang dan menghadapi berbagai tantangan profesional dengan lebih baik.

Grameds, soft skill tidak terbentuk dalam semalam. Namun, dengan terus belajar, mencoba pengalaman baru, dan berani keluar dari zona nyaman, kemampuan-kemampuan tersebut dapat terus berkembang seiring perjalanan karirmu.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Hari Media Sosial Indonesia: Sejarah, Tujuan, dan Tips Bijak Bermedia Sosial
10 June 2026

Hari Media Sosial Indonesia: Sejarah, Tujuan, dan Tips Bijak Bermedia Sosial

#HappeningToday — Grameds, setiap tanggal 10 Juni diperingati sebagai Hari Media Sosial Indonesia. Kehadiran media sosial telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi, berbagi informasi, hingga mengakses berbagai pengetahuan hanya melalui genggaman tangan.

Saat ini, media sosial bukan lagi sekadar tempat untuk membagikan foto atau aktivitas sehari-hari. Platform seperti Instagram, TikTok, X, YouTube, hingga Threads telah berkembang menjadi ruang diskusi, belajar, membangun komunitas, bahkan menemukan inspirasi baru dari berbagai bidang, termasuk dunia literasi.

Namun dibalik kemudahannya, media sosial juga menghadirkan tantangan tersendiri. Arus informasi yang begitu cepat membuat kita perlu lebih cermat dalam memilih, memahami, dan membagikan informasi yang diterima.


Sejarah Hari Media Sosial Indonesia

Hari Media Sosial Indonesia diperingati setiap tanggal 10 Juni. Peringatan ini pertama kali dicetuskan pada tahun 2015 oleh seorang pengusaha pendiri Frontier Group, Handi Irawan D

Tujuan dari adanya Hari Media Sosial Indonesia adalah sebagai ajakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menggunakan media sosial secara bijak, positif, dan bertanggung jawab.

Melalui peringatan Hari Media Sosial Indonesia, masyarakat diajak untuk merayakannya dengan menyampaikan kabar baik apapun melalui akun media sosial yang dimiliki dan memanfaatkan media sosial secara lebih cerdas, termasuk dalam menyaring informasi, menjaga etika berkomunikasi, serta menciptakan ruang digital yang sehat dan bermanfaat bagi semua orang.


Media Sosial dan Dunia Literasi

Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat dalam berkomunikasi dan memperoleh informasi. Berbagai berita, tren, hingga pengetahuan baru saat ini dapat diakses dengan mudah di media sosial.

Media sosial telah membuka banyak peluang untuk terhubung dengan individu maupun komunitas untuk berbagi pengalaman, membangun jaringan, serta menyebarkan ide dan inspirasi. Di bidang literasi, media sosial menjadi sarana yang efektif untuk memperluas akses terhadap informasi dan meningkatkan minat literasi masyarakat misalnya lewat rekomendasi buku, ulasan bacaan, hingga diskusi tentang karya-karya terbaru kini dapat ditemukan dengan mudah.

Banyak pembaca juga memanfaatkan media sosial untuk berbagi pengalaman membaca, membuat klub buku virtual, hingga menemukan penulis dan genre baru yang sebelumnya belum pernah mereka kenal.

Fenomena seperti BookTok dan berbagai komunitas literasi digital menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi jembatan yang mempertemukan buku dengan pembacanya secara lebih luas.


Pentingnya Menjadi Pengguna yang Bijak

Di tengah derasnya informasi yang beredar, kemampuan literasi digital menjadi semakin penting. Tidak semua informasi yang muncul di media sosial dapat dipercaya begitu saja. Karena itu, penting untuk:

  • Memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya.
  • Membaca informasi secara utuh, bukan hanya judulnya.
  • Menghargai perbedaan pendapat saat berdiskusi.
  • Menggunakan media sosial untuk hal-hal yang bermanfaat dan positif.
  • Menjaga etika dalam berkomunikasi di ruang digital.

Dengan kebiasaan tersebut, media sosial dapat menjadi ruang yang lebih sehat dan nyaman untuk semua orang.


Menjadikan Media Sosial sebagai Ruang Belajar

Selain sebagai sarana hiburan, media sosial juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang mudah diakses. Banyak kreator, penulis, akademisi, hingga komunitas yang secara rutin membagikan informasi edukatif dan inspiratif melalui berbagai platform.

Kunci utamanya adalah memilih sumber yang kredibel serta tetap memiliki kebiasaan untuk mencari informasi lebih lanjut dari berbagai referensi, termasuk buku.

Karena pada akhirnya, media sosial dapat menjadi pintu untuk menemukan pengetahuan baru, tetapi pemahaman yang lebih mendalam tetap membutuhkan proses membaca, berpikir kritis, dan belajar secara berkelanjutan.

Grameds, di Hari Media Sosial Indonesia ini, mari memanfaatkan media sosial bukan hanya untuk terhubung dengan orang lain, tetapi juga untuk memperluas wawasan, berbagi inspirasi, dan membangun ruang digital yang lebih positif bagi semua.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

5 Novel Misteri Terbaik yang Penuh Plot Twist dan Sulit Ditebak Hingga Halaman Terakhir
08 June 2026

5 Novel Misteri Terbaik yang Penuh Plot Twist dan Sulit Ditebak Hingga Halaman Terakhir

#LiterasiAsik — Grameds, membaca buku misteri selalu menghadirkan pengalaman yang berbeda. Tidak hanya mengikuti alur cerita, pembaca juga diajak mengumpulkan petunjuk, menyusun teori, hingga menebak apa yang sebenarnya terjadi di balik sebuah kasus.

Menariknya, beberapa buku misteri tidak hanya menawarkan kejutan di akhir cerita, tetapi juga membuat pembaca terus mempertanyakan setiap detail yang muncul di tiap halamannya. Jika Grameds menyukai cerita penuh teka-teki dan plot twist yang sulit di ditebak, lima buku berikut bisa masuk ke daftar bacaanmu.


1. Teka-Teki Gambar Aneh — Uketsu

Teka-Teki Gambar Aneh mengajak pembaca memecahkan misteri melalui serangkaian gambar yang tampaknya tidak memiliki hubungan satu sama lain.

Setiap gambar menyimpan petunjuk penting yang berkaitan dengan kejadian-kejadian misterius. Detail kecil yang terlihat biasa ternyata memiliki makna besar terhadap keseluruhan cerita.

Novel ini membuat pembaca harus benar-benar memperhatikan setiap petunjuk yang diberikan. Tidak heran jika banyak orang menghabiskan waktu untuk berhenti sejenak dan mencoba menyusun teori mereka sendiri sebelum melanjutkan membaca.


2. Teka-Teki Rumah Aneh — Uketsu

Jika Teka-Teki Gambar Aneh berfokus pada misteri gambar, Teka-Teki Rumah Aneh berpusat pada denah rumah. Novel ini berawal dari sebuah rumah yang tampak biasa. Namun, ketika denah rumah tersebut diperhatikan lebih detail, muncul berbagai kejanggalan yang sulit dijelaskan secara logis.

Melalui potongan informasi, gambar denah, dan diskusi mengenai ruang-ruang misterius di dalam rumah, pembaca diajak ikut menyusun teori tentang rahasia yang tersembunyi di balik bangunan tersebut.

Gaya bercerita Uketsu yang unik membuat pembaca merasa seperti sedang menyelidiki kasus secara langsung. Semakin jauh membaca, semakin banyak pertanyaan yang muncul sebelum semuanya perlahan terjawab.


3. Devotion of Suspect X — Keigo Higashino

Berbeda dengan misteri pada umumnya, buku ini justru mengungkap pelaku sejak awal cerita. Namun, tantangan sebenarnya adalah bagaimana kejahatan tersebut berhasil disembunyikan.

Keigo Higashino menghadirkan permainan intelektual antara seorang matematikawan jenius dan detektif yang berusaha mengungkap kebenaran di balik kasus pembunuhan.

Alih-alih berfokus pada siapa pelakunya, pembaca diajak menebak bagaimana rencana tersebut dijalankan dan apakah rahasianya akan terbongkar.


4. Malice — Keigo Higashino

Seorang penulis terkenal ditemukan tewas di rumahnya tepat sebelum pindah ke luar negeri. Polisi segera menemukan tersangka yang mengaku sebagai pelaku pembunuhan tersebut.

Namun, kasus ini ternyata tidak sesederhana yang terlihat. Meski pelakunya sudah diketahui, motif di balik pembunuhan tersebut justru menjadi teka-teki yang jauh lebih rumit.

Melalui sudut pandang yang terus berubah dan berbagai fakta yang perlahan terungkap, Malice menghadirkan misteri psikologis yang membuat pembaca terus menebak hingga akhir cerita.


5. Kasus Pembunuhan Honjin — Seishi Yokomizo

Novel ini berawal dari pembunuhan pasangan pengantin yang terjadi pada malam pernikahan mereka. Yang membuat kasus tersebut semakin misterius adalah kondisi ruangannya yang terkunci dari dalam sehingga tampak mustahil bagi pelaku untuk masuk maupun keluar.

Penyelidikan kemudian mengungkap berbagai petunjuk yang tersebar di sekitar tempat kejadian, mulai dari jejak-jejak mencurigakan hingga benda-benda yang tampak sepele. Namun, semakin banyak fakta ditemukan, semakin rumit pula misteri yang harus dipecahkan.

Sebagai salah satu novel misteri klasik Jepang yang paling terkenal, Kasus Pembunuhan Honjin menghadirkan teka-teki ruang tertutup (locked-room mystery) yang membuat pembaca terus menyusun teori hingga akhir cerita.

Kenapa Novel Misteri Jepang Banyak Digemari?

Popularitas novel misteri Jepang terus meningkat karena mampu menghadirkan teka-teki yang logis, penuh petunjuk tersembunyi, dan sulit ditebak hingga akhir cerita. Pembaca tidak hanya mengikuti alur, tetapi juga diajak ikut menyusun teori dan memecahkan misteri bersama tokoh-tokohnya.


FAQ

  1. Apa novel misteri Jepang terbaik untuk pemula?
    Novel misteri Jepang dapat dibaca oleh pemula. Bagi pemula, buku seperti Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu dan The Devotion of Suspect X karya Keigo Higashino sering menjadi rekomendasi karena alurnya mudah diikuti namun tetap menghadirkan kejutan yang kuat.
  2. Novel dengan plot twist terbaik?
    Malice dan Teka-Teki Gambar Aneh dikenal sebagai novel dengan plot twist terbaik yang membuat pembaca mempertanyakan setiap petunjuk yang muncul sepanjang cerita. Dengan misteri psikologis, berbagai sudut pandang dari tiap karakter serta berbagai detailnya, cerita ini mampu membuat Grameds semakin penasaran dengan akhir cerita.
  3. Apa perbedaan novel misteri dan thriller?
    Meski sering disamakan dengan thriller, novel misteri lebih berfokus pada proses mengungkap sebuah rahasia atau memecahkan kasus. Thriller biasanya menonjolkan ketegangan dan ancaman yang terus meningkat, sedangkan misteri mengajak pembaca berpikir dan menebak jawaban hingga halaman terakhir.

Grameds, dari misteri yang tersembunyi dalam gambar hingga kasus pembunuhan yang penuh permainan logika, kelima buku ini menawarkan pengalaman membaca yang akan membuatmu terus menebak hingga halaman terakhir. Kira-kira, buku mana yang paling ingin kamu baca duluan?


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

8 Istilah Populer di Dunia Literasi, Berapa Banyak yang Kamu Tahu?
05 June 2026

8 Istilah Populer di Dunia Literasi, Berapa Banyak yang Kamu Tahu?

#LiterasiAsik — Dunia literasi tidak hanya dipenuhi oleh buku dan aktivitas membaca. Seiring berkembangnya komunitas pembaca di berbagai platform, muncul banyak istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan kebiasaan, pengalaman, hingga perasaan yang dialami saat membaca.

Mulai dari istilah bagi seseorang yang kehilangan mood membaca, atau kebiasaan membeli buku tanpa langsung membacanya, hingga kondisi ketika sulit move on dari sebuah cerita. Jika Grameds aktif membaca atau mengikuti komunitas buku, mungkin beberapa istilah berikut pernah kamu dengar atau bahkan alami sendiri. 


1. Reading Slump
Reading slump merupakan kondisi ketika seseorang kehilangan semangat atau motivasi untuk membaca dalam periode waktu tertentu. Kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, bahkan pada orang yang sangat gemar membaca sekalipun.

Saat mengalami reading slump, seseorang biasanya tetap menyukai buku dan masih tertarik melihat rekomendasi bacaan baru. Namun, ketika mulai membaca, mereka merasa sulit fokus, cepat bosan, atau tidak menikmati proses membaca seperti biasanya.

Reading slump dapat dipicu oleh berbagai hal, mulai dari kesibukan, kelelahan, stres, terlalu banyak membaca buku berat, hingga tekanan untuk terus produktif. Karena itu banyak pembaca yang memilih untuk beristirahat sejenak untuk mengembalikan semangat membaca.


2. Book Hangover
Book hangover adalah kondisi emosional yang dialami seseorang setelah menyelesaikan sebuah buku yang sangat berkesan. Pembaca biasanya masih terus memikirkan cerita, karakter, atau konflik yang ada di dalam buku tersebut meskipun buku sudah selesai dibaca.

Perasaan ini sering muncul ketika seseorang memiliki keterikatan emosional yang kuat terhadap sebuah cerita. Akibatnya, mereka merasa sulit melepaskan diri dari dunia yang dibangun dalam buku tersebut.

Tidak jarang seseorang yang mengalami book hangover menjadi enggan memulai buku baru karena masih terbawa suasana dari bacaan sebelumnya. Semakin mendalam pengalaman membaca yang dirasakan, semakin besar kemungkinan seseorang mengalami kondisi ini.


3. Bibliosmia
Bibliosmia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan aroma khas yang berasal dari buku. Aroma tersebut dapat berasal dari tinta, kertas, lem penjilid, maupun proses penuaan bahan buku itu sendiri.

Bagi sebagian orang, aroma buku memberikan pengalaman yang tidak terpisahkan dari aktivitas membaca. Tidak sedikit pecinta buku yang mengaku senang mencium aroma halaman buku baru maupun buku lama saat berkunjung ke toko buku atau perpustakaan.

Aroma tersebut sering dikaitkan dengan rasa nyaman, nostalgia, dan ketenangan. Karena itu, bibliosmia menjadi salah satu istilah yang cukup populer di kalangan pecinta literasi dan kolektor buku.


4. Annotating
Annotating adalah aktivitas memberikan catatan, tanda, highlight, atau komentar pada halaman buku selama proses membaca. Metode ini semakin populer, terutama di kalangan pembaca yang ingin berinteraksi lebih dalam dengan isi buku.

Melalui annotating, pembaca dapat menandai kutipan favorit, mencatat pemikiran pribadi, atau memberikan reaksi terhadap bagian tertentu dari cerita. Aktivitas ini membuat proses membaca menjadi lebih aktif dibandingkan hanya membaca secara pasif.

Selain membantu memahami isi buku, annotating juga membuat pengalaman membaca terasa lebih personal. Bahkan setelah bertahun-tahun, catatan tersebut dapat menjadi pengingat tentang apa yang pernah dirasakan dan dipikirkan saat pertama kali membaca buku tersebut.


5. Tsundoku
Tsundoku merupakan istilah dari Jepang yang merujuk pada kebiasaan membeli atau mengoleksi buku tanpa langsung membacanya. Buku-buku tersebut akhirnya menumpuk di rak sambil menunggu waktu yang tepat untuk dibaca.

Fenomena ini cukup umum terjadi di kalangan pecinta buku. Tidak sedikit orang yang merasa senang berburu buku baru, baik karena tertarik pada sampul, sinopsis, maupun rekomendasi dari orang lain, meskipun masih memiliki banyak buku yang belum selesai dibaca.

Meski sering dianggap sebagai kebiasaan yang lucu, tsundoku sebenarnya menunjukkan besarnya antusiasme seseorang terhadap dunia literasi. Bahkan bagi sebagian pembaca, memiliki tumpukan buku yang menunggu untuk dibaca justru memberikan rasa bahagia.


6. DNF (Did Not Finish)
DNF merupakan singkatan dari Did Not Finish, yaitu istilah yang digunakan ketika seseorang memutuskan untuk tidak melanjutkan atau menamatkan sebuah buku.

Keputusan untuk DNF biasanya terjadi karena pembaca merasa tidak cocok dengan jalan cerita, gaya penulisan, karakter, atau tema yang diangkat dalam buku tersebut. Dalam beberapa kasus, alasan utamanya juga bisa karena kehilangan minat di tengah proses membaca.

Meski sering dianggap sebagai “gagal menamatkan buku”, banyak pembaca kini memandang DNF sebagai hal yang wajar. Sebab, tidak semua buku harus dipaksakan untuk selesai jika ternyata tidak memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan.


7. CR (Currently Reading)
CR atau currently reading adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan buku yang sedang dibaca saat ini. Istilah ini sering ditemukan di komunitas literasi, media sosial, maupun platform pencatatan bacaan.

Banyak pembaca menggunakan istilah ini untuk membagikan progres membaca mereka kepada teman atau sesama pecinta buku. Tidak jarang seseorang juga memiliki lebih dari satu currently reading dalam waktu yang bersamaan karena membaca beberapa buku dengan genre berbeda.

Selain menjadi cara untuk mendokumentasikan kebiasaan membaca, membagikan currently reading juga sering menjadi sarana bertukar rekomendasi dan memulai diskusi mengenai buku yang sedang populer.


8. TBR (To Be Read)
TBR merupakan singkatan dari To Be Read, yaitu daftar buku yang ingin dibaca di masa mendatang. Istilah ini sangat populer di kalangan pembaca yang gemar membuat target atau daftar bacaan.

Daftar TBR biasanya berisi buku-buku yang diperoleh dari rekomendasi teman, media sosial, toko buku, hingga hasil berburu buku saat diskon. Tidak sedikit pembaca yang memiliki daftar TBR jauh lebih panjang daripada jumlah buku yang berhasil mereka baca setiap tahun.

Meski sering menjadi sumber candaan karena terus bertambah, TBR membantu pembaca mengatur prioritas bacaan sekaligus menjadi pengingat buku-buku menarik yang ingin mereka eksplorasi suatu saat nanti.

Seiring berkembangnya komunitas pembaca, istilah-istilah baru dalam dunia literasi juga terus bermunculan. Kehadiran berbagai istilah ini menunjukkan bahwa membaca bukan hanya tentang menyelesaikan buku, tetapi juga tentang pengalaman, kebiasaan, dan emosi yang dirasakan selama proses tersebut.

Jadi, dari berbagai istilah di atas mana yang paling sering kamu alami, Grameds?


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Annotated Book: Cara Membaca Aktif yang Bikin Buku Makin Bermakna
04 June 2026

Annotated Book: Cara Membaca Aktif yang Bikin Buku Makin Bermakna

#LiterasiAsik — Grameds, pernah melihat buku yang penuh dengan sticky notes, highlight warna-warni, atau catatan kecil di pinggir halaman? Atau mungkin kamu sendiri yang sudah melakukan kebiasaan ini tanpa tahu istilahnya? Kebiasaan ini dikenal dengan istilah annotated book — dan belakangan semakin digemari oleh banyak pembaca, terutama di kalangan anak muda.

Bagi sebagian orang, menulis di buku mungkin terasa seperti “merusak” halaman yang bersih. Tapi bagi para pembaca yang menyukai annotated book, kebiasaan ini justru membuat pengalaman membaca terasa lebih personal dan berkesan. Lalu apa sebenarnya annotated book itu? Dan mengapa tren ini layak kamu coba?


Apa Itu Annotated Book?

Annotated book adalah kebiasaan memberikan tanda, catatan, highlight, atau komentar pada buku saat membaca. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari menandai kutipan favorit, menulis reaksi terhadap cerita, hingga memberi sticky notes pada bagian tertentu.

Kebiasaan ini sebenarnya sudah lama dikenal dalam dunia akademik sebagai bagian dari strategi active reading atau membaca secara aktif. Namun, saat ini anotasi buku juga berkembang sebagai ekspresi diri dan kegiatan kreatif yang digemari banyak pembaca. 

Kebiasaan ini biasanya dilakukan untuk membantu pembaca lebih memahami isi buku sekaligus menyimpan bagian-bagian yang dianggap menarik atau berkesan.


Mengapa Annotated Book Makin Populer?

Salah satu alasan annotated book semakin populer adalah karena kegiatan membaca terasa menjadi lebih interaktif dan personal. Pembaca tidak hanya membaca secara pasif, tetapi juga ikut terlibat dengan merespon, mempertanyakan dan merasakan cerita atau isi buku secara lebih mendalam. Di media sosial, tren ini juga semakin berkembang karena banyak pembaca membagikan hasil anotasi mereka yang terlihat estetik dan personal. Hal ini mendorong para pembaca lainnya yang terinspirasi untuk juga melakukan hal yang sama. 

Selain itu, banyak orang merasa lebih mudah mengingat isi bacaan ketika mereka menuliskan pemikiran atau menandai bagian tertentu. Catatan kecil yang dibuat selama membaca juga sering kali menjadi cara untuk mengekspresikan emosi dan pendapat secara spontan.


Manfaat Anotasi Buku

Berikut beberapa manfaat dari kebiasaan anotasi buku yang bisa kamu rasakan:

  • Membantu memahami isi buku dengan lebih mendalam.
  • Mempermudah mengingat poin-poin penting dalam bacaan.
  • Menandai kutipan favorit agar mudah ditemukan kembali.
  • Memudahkan mencari informasi penting tanpa harus membaca ulang seluruh buku.
  • Membuat pengalaman membaca lebih interaktif dan personal.


Tips Memulai Anotasi Buku

Bagi Grameds yang tertarik mencoba anotasi buku, berikut beberapa tips sederhana yang bisa dilakukan:

  • Gunakan highlighter untuk menandai kutipan favorit atau bagian penting
  • Tambahkan sticky notes pada halaman yang ingin dibaca ulang
  • Gunakan warna berbeda untuk membedakan jenis catatan
  • Tidak perlu terlalu estetik, fokus pada kenyamanan saat membaca
  • Mulai dari sedikit anotasi agar tetap nyaman dan tidak berlebihan

Namun, tidak ada aturan khusus dalam membuat anotasi. Setiap pembaca memiliki gaya masing-masing sesuai dengan kenyamanan mereka saat membaca. 

Selain itu, Grameds juga harus ingat, bahwa annotated book untuk memperkaya pengalaman membaca — bukan soal seberapa estetik buku kamu. 


Apakah Menulis di Buku Itu Boleh?

Tidak semua orang nyaman dengan kebiasaan ini. Sebagian pembaca lebih menyukai buku yang tetap bersih tanpa coretan apa pun. Namun, sebagian lainnya justru merasa buku menjadi lebih hidup ketika dipenuhi catatan dan tanda-tanda kecil.

Pada akhirnya, tidak ada cara membaca yang benar atau salah.  Anotasi buku bisa kamu lakukan selama buku yang kamu gunakan adalah bukumu sendiri. Setiap orang memiliki kebiasaan membaca yang berbeda sesuai dengan kenyamanan masing-masing.

Grameds, annotated book menunjukkan bahwa membaca tidak selalu harus pasif. Bagi sebagian orang, memberi catatan kecil di buku justru membuat pengalaman membaca terasa lebih dekat, personal, dan berkesan. Jadi, kalau Grameds sendiri, lebih suka buku tetap bersih atau penuh anotasi? 


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.