Innovation, Transformed.

Bersama Gramedia, menginspirasi Indonesia menuju masa depan yang cemerlang.

Who we are?

Gramedia berdiri pada tahun 1970, PT Gramedia Asri Media atau kerap dikenal menjadi Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group.
56 Tahun
#TumbuhBermakna
3513 Pegawai
Di seluruh Indonesia
1700+ Buku
Tercetak di Indonesia selama tahun 2024
1000+ Events
Berhasil dilaksanakan
Temukan kisah dan perjalanan kami disini!

Terus berkembang melampaui batas, membentuk masa depan yang lebih cerah melalui brand.

PT Gramedia Asri Media atau Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group yang berfokus pada bisnis ritel dengan buku, alat tulis, produk non-books sebagai produk utamanya. Selain itu, Gramedia juga bergerak di bidang pendidikan untuk kemajuan pengetahuan di nusantara.
Pelajari lebih lanjut tentang brand

Testimonials

Apa kata mereka tentang Gramedia?
Dr. Andreas
“Senang bisa collab dengan Penerbit Gramedia, karena bisa nerima ide-ide yang unik dari penulisnya!”
Dr. Andreas, Penulis
Brian Khrisna
“Sejak kecil, saya suka banget dateng ke Gramedia dan saya termotivasi kalo suatu saat buku saya harus ada di Gramedia, dan akhirnya bisa nerbitin buku di Gramedia.”
Brian Khrisna, Penulis
Yoyok
“Promexx sudah menjalin kerjasama dengan Gramedia lebih dari 20 tahun, dan selama menjalin kemitraan kedua belah pihak mendapat benefit yang bagus.”
Yoyok, Mitra Gramedia

Latest updates

See all
Mengenai Buku The Odyssey oleh Homer, Adaptasi Christopher Nolan
09 July 2026

Mengenai Buku The Odyssey oleh Homer, Adaptasi Christopher Nolan

#LiterasiAsik Bertabur bintang, The Odyssey telah diadaptasi dalam bentuk layar lebar yang dijadwalkan tayang di pertengahan Juli 2026. Perbincangan mengenai adaptasi yang disutradarai Christopher Nolan ini telah banyak dibahas di sosial media bahkan sebelum penayangannya. Selain karena besarnya Christopher Nolan sebagai seorang sutradara, filmnya juga dibintangi nama-nama besar seperti Matt Damon, Tom Holland, Anne Hathaway, Robert Pattinson, Lupita Nyong’O.

Sebelum menonton filmnya, ini yang harus kamu tahu mengenai cerita dari buku aslinya, The Odyssey.


 Matt Damon, Anne Hathaway, Tom Holland, Lupita Nyong’O, Christopher Nolan, John Leguizamo, Zendaya, Charlize Theron, dan Emma Thomas di Premiere The Odyssey di Paris. (Foto: Instagram @theodysseymovie)


Perjalanan Odysseus Kembali ke Rumahnya

Kata Odyssey dalam bahasa inggris memiliki arti perjalanan yang panjang. Kata itu sendiri ditarik dari puisi Homer yang berjudul Odýsseia dalam bahasa aslinya. Hal ini dikarenakan puisi ini yang ditulis untuk menceritakan sebuah perjalanan panjang yang penuh tantangan dan kesulitan.

Sejatinya, The Odyssey menceritakan tentang Odysseus, seorang Raja Ithaca, dalam perjalanannya kembali ke kerajaan setelah kemenangannya di Perang Troya. Namun, perjalanan kepulangan Odysseus kembali ke Ithaca dipersulit dengan diharuskannya Ia melalui tantangan-tantangan selama 10 tahun.  

Puisi ini terdiri dari 24 buku, dan cerita Odysseus tidak dimulai dengan sudut pandangnya. Kisah ini dimulai dari anaknya, Telemachus, yang diperintah oleh Dewi Athena untuk mencari kabar tentang ayahnya. Selanjutnya, The Odyssey menceritakan perjalanan yang Odysseus yang panjang mencari jalan pulangnya.


Adaptasi Salah Satu Puisi Epos Tertua di Dunia

Diyakini ditulis oleh Homer, The Odyssey merupakan sebuah cerita yang ditulis di abad ke 7-8 sebelum masehi. Umurnya yang sangat tua menjadikan The Odyssey salah satu karya tertua yang bertahan digemari pembaca hingga saat ini. Kepopulerannya juga terbukti dengan produksi bukunya yang terus diterjemahkan ke berbagai bahasa. 

Kisahnya merupakan bagian dari mitologi Yunani kuno, yang juga menceritakan Dewa-dewi Zeus, Athena, dan Poseidon. Cerita ini juga pernah diadaptasi menjadi buku sastra modern Irlandia berjudul Ulysses, ditulis oleh James Joyce, salah satu kanon literatur Barat.


Homer, Penulis Fondasi Sastra Yunani Kuno

Homer merupakan salah satu penulis yang paling berpengaruh pada sastra Yunani kuno. Selain diyakini dengan The Odyssey, Homer juga diyakini menulis Iliad, yang menceritakan pertengkaran Raja Agamemnon dan Achilles di tahun terakhir Perang Troya. Tulisan-tulisan Homer juga merupakan salah satu fondasi dari mitologi Yunani kuno untuk menjadi cerita yang kita ketahui hingga hari ini.

Kendati demikian, siapa sebenarnya penulis The Odyssey dan Iliad masih diperdebatkan oleh ahli. Beberapa juga meyakini bahwa kedua cerita tersebut merupakan cerita yang telah lama diturunkan dari mulut ke mulut. Hal ini dikarenakan identitas Homer yang saat ini belum bisa dibuktikan secara konkret.

The Odyssey memang salah satu kanon literatur Yunani, menjadikannya salah satu bacaan wajib kalau kamu mau tau lebih jauh mengenai mitologi Yunani kuno. Sebelum menonton adaptasi filmnya, kamu bisa mengeksplorasi cerita aslinya dengan membaca The Odyssey, yang bisa dibeli di toko buku Gramedia di dekatmu. 


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Apa itu Junk Journaling? Cara Ubah Sampah jadi Jurnal Kreatif
07 July 2026

Apa itu Junk Journaling? Cara Ubah Sampah jadi Jurnal Kreatif

#HappeningToday — Akhir-akhir ini, Grameds mungkin sering mendengar istilah junk journaling berkeliaran di media sosial. Banyak juga komunitas yang mengajak orang berkumpul untuk junk journaling bersama-sama. Tapi, apa itu sebenarnya junk journaling, dan kenapa banyak yang menggemarinya?


Apa itu Junk Journaling? Mengapa Tren ini Menjadi Populer?

Journaling adalah salah satu cara menghabiskan waktu tanpa mengeluarkan banyak energi. Untuk kesehatan mental, journaling juga menjadi salah satu cara untuk meregulasi emosi dan mengekspresikan diri sendiri. 


Sebagai hobi, tren ini sedang banyak dibahas dengan banyak yang memamerkan hasil akhirnya melalui media sosial. Tapi, junk journaling menunjukkan bahwa journaling nggak harus berbakat menulis atau menggambar, cukup dilakukan dengan mengoleksi memori melalui kertas yang sering dianggap sampah.


Lihat bungkus makanan cantik? Atau mau simpan tiket dari trip istimewa? Junk journaling mungkin jawaban untukmu. Junk journaling adalah sebuah seni yang terbuat dari sampah bekas yang dikolase dalam sebuah buku catatan. Berdasarkan kata junk, yang memiliki arti sampah, junk journaling berarti memanfaatkan sampah dan mengumpulkannya dalam sebuah jurnal. Mirip seperti scrapbooking, junk journal juga sebuah seni kolase barang-barang cantik yang kemudian dikoleksi dalam sebuah buku. Junk journaling memanfaatkan barang-barang sekali pakai dan mengubahnya menjadi halaman-halaman yang ciamik tanpa mengoleksi debu di pajangan. Sebuah junk journal membantu menyimpan barang-barang sentimental seperti tiket pesawat, koran, bungkus makanan, dan barang lainnya menjadi sebuah karya yang menyimpan makna. Jurnal itu juga dapat dihias dengan foto-foto dari hari yang kalian lalui. 


Seperti kotak kenangan, junk journal membantu menyimpan memori spesial melalui karya cantik yang dibuat sendiri. Biasanya, junk journal diisi dengan barang-barang seperti tiket konser, boarding pass, struk belanja, stiker, stamp collection, dan barang-barang lainnya yang bisa dikumpulkan. Karena itu, jurnal ini menyimpan memori tanpa membuat barang-barangnya berserakan.


Kegunaan Junk Journal

Sebagai sebuah buku yang berisi sampah, sebuah junk journal dapat dimanfaatkan dengan berbagai kegunaan.

  • Menyimpan kenangan
    Terkadang, kenangan bisa tersimpan dalam foto, surat, atau secarik kertas yang kita temukan di sebuah meja makan restoran. Junk journaling dapat memberikan tempat untuk kita melakukan koleksi barang-barang yang sayang dibuang.
  • Ekspresi kreatif
    Walaupun begitu, junk journaling tidak hanya dapat dilakukan untuk sampah yang menyimpan memori. Kegiatan journaling ini juga dapat dilakukan untuk melatih koordinasi warna dan bentuk dengan sampah-sampah yang kamu miliki, seperti bungkus makanan atau kemasan paket. 
  • Menampilkan koleksi unik 
    Selain sampah, sebuah junk journal juga dapat digunakan untuk menyimpan koleksi unik. Banyak orang menggunakan junk journal untuk mengoleksi jenis daun, bungkus teh, stiker, bahkan cetakan stempel yang bisa ditemukan di tempat umum. Seringkali, setiap halaman dari sebuah junk journal akan diberi tema sesuai koleksinya.

Satu Cara Apresiasi Karya

Selain memori indah, junk journaling juga jadi salah satu cara untuk mengapresiasi langkah rumit yang dilalui seorang desainer dalam membuat sebuah produk. Seringkali, sebuah tissue, logo restoran pada bill makanan, atau bungkus take away yang lucu sangat disayangkan kalau harus dibuang. Dengan kerja keras yang telah dilakukan untuk memproduksi barang-barang tersebut, junk journaling jadi salah satu solusi mengabadikan karya yang telah dibuat. Ditambah, membuat sebuah junk journal dapat memberi kehidupan kedua dari barang yang kamu konsumsi.


Manfaat Melakukan Junk Journaling

Mungkin kamu berpikir, kenapa sampah dikoleksi untuk menjadi hiasan? Jangan salah, junk journaling ini memiliki beberapa manfaat.

  • Melatih kreativitas dengan mengatur warna dan bentuk
  • Mengurangi stres sebagai hobi di waktu kosong
  • Menurunkan waktu menggunakan gawai digital
  • Sarana melatih mindfulness dalam berkegiatan
  • Menjadi kegiatan terapeutik 

Berkomunitas Melalui Junk Journaling

Melalui sosial media, beberapa komunitas telah terbentuk untuk melakukan junk journaling bersama. Walaupun junk journal dapat dilakukan sendiri, kegiatan junk journaling bersama telah menciptakan lingkungan di mana orang-orang dapat berkumpul dan berkenalan mengenai hobi yang sama. Di kota-kota besar, kegiatan berkomunitas ini juga dilakukan untuk bersama-sama slowing down di tengah kehidupan yang berhuru-hara. Karena itu, junk journaling dapat mengajarkan mindfulness dan perhatian kepada detail sambil berekspresi melalui karya.


Junk journaling menjadi salah satu outlet untuk menghabiskan waktu sambil menyimpan memori. Kegiatan ini juga merupakan salah satu cara untuk menghargai barang-barang kecil yang kita pakai setiap harinya. Melalui junk journaling, benda-benda sederhana berubah menjadi cerita yang dapat dikenang kembali kapan saja. 


Grameds, kalau kamu mau mulai junk journaling, kamu bisa beli kebutuhanmu di Gramedia loh. Berbagai bahan-bahan untuk membuat sebuah junk journal tersedia di Gramedia.com, seperti buku sketsa, gunting, pulpen hias, dan washi tape. Selain itu, kamu juga bisa menemukan perlengkapan lainnya langsung di toko buku Gramedia, ya.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Apa itu Cliffhanger? Kenali Teknik Penulisan Buku yang Membuat Pembaca Penasaran
03 July 2026

Apa itu Cliffhanger? Kenali Teknik Penulisan Buku yang Membuat Pembaca Penasaran

#LiterasiAsik — Grameds, pernah tidak sedang membaca novel, lalu satu bab berakhir tepat ketika tokoh utama menemukan sebuah rahasia besar? Atau saat konfliknya baru mencapai puncak, tiba-tiba ceritanya berhenti dan membuat kamu penasaran?

Kalau pernah mengalaminya, kemungkinan besar penulis sedang menggunakan teknik yang disebut cliffhanger. Teknik ini menjadi salah satu cara yang sering digunakan penulis untuk menjaga rasa penasaran pembaca hingga cerita selesai.

Lalu, apa sebenarnya cliffhanger dan mengapa teknik ini begitu efektif?


Apa Itu Cliffhanger?

Cliffhanger adalah teknik bercerita yang mengakhiri sebuah bab, adegan, atau cerita pada momen yang belum selesai sehingga membuat pembaca ingin segera mengetahui kelanjutannya.

Istilah cliffhanger berasal dari gambaran seseorang yang “tergantung di tepi tebing” (cliff) dengan nasib yang belum diketahui. Dalam dunia cerita, istilah ini digunakan untuk menggambarkan akhir yang menggantung dan membuat pembaca terus bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena itulah, teknik ini banyak digunakan dalam novel, komik, film, hingga serial televisi.


Mengapa Penulis Menggunakan Cliffhanger?

Bukan tanpa alasan, banyak penulis sengaja menggunakan cliffhanger untuk menciptakan pengalaman membaca yang lebih menarik. Beberapa tujuannya antara lain:

  • Membangun rasa penasaran pembaca.
  • Membuat alur cerita terasa lebih hidup dan dinamis.
  • Mendorong pembaca untuk terus melanjutkan ke bab berikutnya.
  • Menjaga ketegangan hingga konflik mencapai penyelesaiannya.

Teknik ini juga sering menjadi salah satu alasan mengapa sebuah buku terasa begitu sulit untuk ditinggalkan.


Ciri-Ciri Cliffhanger

Sebuah cerita biasanya menggunakan cliffhanger jika memiliki beberapa ciri berikut:

  • Bab berakhir saat konflik sedang memuncak.
  • Jawaban atas pertanyaan penting belum diberikan.
  • Nasib tokoh utama masih belum diketahui.
  • Muncul kejutan besar tepat sebelum cerita berhenti.
  • Pembaca merasa ingin langsung melanjutkan membaca.

Perbedaan Cliffhanger dengan Plot Twist

Meski sama-sama mampu mengejutkan pembaca, cliffhanger dan plot twist merupakan dua teknik bercerita yang berbeda. Cliffhanger berfungsi menciptakan rasa penasaran dengan menghentikan cerita di momen yang belum selesai, sehingga pembaca terdorong untuk terus mengikuti kelanjutannya. Sementara itu, plot twist adalah perubahan arah cerita yang tidak terduga dan sering kali mengubah pemahaman pembaca terhadap peristiwa yang sedang berlangsung.

Singkatnya, cliffhanger membuat pembaca bertanya, "Apa yang akan terjadi selanjutnya?" Sedangkan plot twist membuat pembaca berpikir, "Ternyata selama ini bukan seperti yang aku kira." Dalam banyak novel, kedua teknik ini bahkan sering digunakan bersamaan. Sebuah bab dapat diakhiri dengan cliffhanger, lalu pada bab berikutnya pembaca disuguhkan plot twist yang mengubah jalannya cerita secara mengejutkan.


Apakah Cliffhanger Selalu Berada di Akhir Cerita?

Banyak orang mengira cliffhanger hanya muncul di akhir novel atau film. Padahal, teknik ini lebih sering digunakan di akhir bab atau akhir episode.

Misalnya, seorang tokoh menerima telepon misterius, menemukan sebuah surat rahasia, atau bertemu seseorang yang mengubah jalan cerita. Tepat sebelum jawabannya terungkap, bab tersebut selesai. Pembaca pun terdorong untuk langsung membuka halaman berikutnya.

Sementara itu, cliffhanger di akhir sebuah novel biasanya digunakan untuk membuka kemungkinan cerita lanjutan atau sekuel.

Grameds, di balik setiap akhir bab yang menggantung, ada strategi penulis untuk membuat pembaca terus terlibat dalam cerita. Nah, apakah kamu termasuk pembaca yang langsung lanjut ke bab berikutnya saat menemukan cliffhanger?


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Mengenal Istilah Page Turner: Apakah Buku Favoritmu Termasuk?
02 July 2026

Mengenal Istilah Page Turner: Apakah Buku Favoritmu Termasuk?

#LiterasiAsik — Grameds, pernah tidak merasa ingin membaca “satu bab lagi”, tetapi tanpa sadar justru menghabiskan setengah isi buku dalam satu malam? Atau mungkin kamu pernah sulit berhenti membaca karena penasaran dengan kelanjutan ceritanya? Jika pernah, bisa jadi buku tersebut termasuk page turner.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan page turner dan bagaimana ciri-cirinya?


Apa Itu Page Turner?

Page turner adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan buku yang sangat menarik hingga membuat pembaca sulit berhenti membaca. Rasa penasaran terhadap kelanjutan cerita membuat pembaca ingin terus membaca halaman berikutnya, bahkan sering kali tanpa menyadari waktu telah berlalu.

Istilah ini tidak terbatas pada satu jenis buku saja. Novel misteri, thriller, fantasi, romance, hingga karya nonfiksi pun bisa disebut page turner selama mampu mempertahankan rasa penasaran pembaca dari awal hingga akhir.


Ciri-Ciri Buku Page Turner

Meski setiap pembaca memiliki selera yang berbeda, ada beberapa karakteristik yang umumnya dimiliki buku page turner, yaitu:

  • Alur cerita yang mengalir dan tidak membosankan
    Setiap bab terasa saling terhubung sehingga pembaca ingin terus melanjutkan cerita.
  • Konflik yang terus berkembang
    Ketika satu masalah selesai, biasanya akan muncul tantangan baru yang membuat cerita tetap menarik.
  • Karakter yang kuat dan mudah diingat
    Pembaca merasa terhubung dengan tokoh sehingga ingin mengetahui bagaimana perjalanan mereka berakhir.
  • Akhir bab yang membuat penasaran
    Banyak buku menggunakan teknik cliffhanger, yaitu mengakhiri bab di momen penting sehingga pembaca terdorong membuka halaman berikutnya.
  • Tempo cerita yang pas
    Cerita tidak terasa terlalu lambat maupun terburu-buru sehingga ritmenya nyaman diikuti.


Apakah Page Turner Hanya Berlaku di Buku yang Tipis?

Grameds, jumlah halaman bukanlah penentu apakah buku akan lebih mudah menjadi page turner. Ada novel dengan ratusan halaman yang terasa lambat, tetapi ada juga buku yang lebih dari 200 halaman dan selesai dalam sekali duduk karena ceritanya begitu menarik.

Yang membuat buku menjadi page turner adalah bagaimana penulis membangun rasa penasaran dan ketertarikan pembaca terhadap alur cerita.

Setiap orang tentu memiliki pengalaman membaca yang berbeda. Buku yang merasa seperti page turner bagi satu pembaca belum tentu memberikan kesan yang sama bagi pembaca lainnya. Hal tersebut dipengaruhi oleh selera, genre favorit, hingga cara masing-masing pembaca menikmati cerita.

Grameds, sekarang coba ingat kembali buku yang pernah membuatmu berpikir “Satu bab lagi, deh,” tetapi akhirnya baru berhenti membaca saat ceritanya benar-benar selesai. Bisa jadi, itulah buku page turner versimu.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Apa Itu Upskilling dan Reskilling dalam Berkarir? Ini Perbedaan yang Perlu Kamu Ketahui
01 July 2026

Apa Itu Upskilling dan Reskilling dalam Berkarir? Ini Perbedaan yang Perlu Kamu Ketahui

#CareerSpotlight — Dunia kerja terus mengalami perubahan seiring perkembangan teknologi, digitalisasi, dan kebutuhan industri yang semakin dinamis. Profesi baru terus bermunculan, sementara beberapa pekerjaan mulai mengalami perubahan cara kerja bahkan tergantikan oleh teknologi. Di tengah perubahan tersebut, muncul dua istilah yang semakin sering dibahas, yaitu upskilling dan reskilling.

Meski terdengar mirip, keduanya memiliki tujuan yang berbeda. Memahami perbedaan upskilling dan reskilling dapat membantu Grameds menentukan langkah yang tepat untuk mengembangkan kemampuan, baik saat masih menempuh pendidikan maupun ketika sudah memasuki dunia kerja.


Apa Itu Upskilling?

Upskilling adalah proses meningkatkan atau memperdalam keterampilan yang sudah dimiliki agar lebih relevan dengan perkembangan pekerjaan saat ini. Tujuannya bukan untuk berganti profesi, melainkan agar seseorang dapat bekerja lebih efektif, mengikuti perkembangan industri, dan memiliki peluang karir yang lebih baik.

Sebagai contoh, seorang staf marketing yang memperdalam belajar bahasa Inggris untuk memudahkan komunikasi dengan klien atau mitra dari luar negeri termasuk dalam upaya upskilling. Kemampuan tersebut membantu seseorang bekerja lebih efektif dan meningkatkan profesionalitas tanpa harus berpindah ke bidang pekerjaan yang berbeda.


Apa Itu Reskilling?

Berbeda dengan upskilling, reskilling adalah proses mempelajari keterampilan baru agar seseorang dapat beralih ke pekerjaan atau bidang yang berbeda. Reskilling biasanya dilakukan ketika kebutuhan industri berubah atau seseorang ingin mengejar jalur karier yang baru.

Misalnya, seorang staf administrasi yang belajar digital marketing, data analysis, atau UI/UX design agar dapat berpindah profesi. Dengan reskilling, seseorang memperoleh kompetensi baru yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan yang ingin dijalani.


Apa Perbedaan Reskilling dan Upskilling?

Perbedaan utama keduanya terletak pada tujuan pembelajarannya. Upskilling berfokus pada peningkatan kemampuan dalam bidang yang sama, sedangkan reskilling bertujuan mempelajari keterampilan baru untuk memasuki bidang pekerjaan yang berbeda.

Sederhananya, jika Grameds ingin berkembang di profesi yang sedang dijalani, upskilling menjadi pilihan yang tepat. Namun, jika ingin berpindah karier atau mencoba bidang baru, reskilling menjadi langkah yang dapat dipertimbangkan.


Mengapa Keduanya Penting?

Perubahan dunia kerja membuat proses belajar tidak berhenti setelah lulus sekolah atau kuliah. Kemampuan yang relevan hari ini belum tentu masih dibutuhkan beberapa tahun mendatang. Oleh karena itu, memiliki kemauan untuk terus belajar menjadi salah satu keterampilan yang paling penting.

Baik reskilling maupun upskilling membantu seseorang lebih siap menghadapi perubahan, meningkatkan daya saing, membuka peluang karir baru, serta mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan industri di masa depan.


Tips Memulai Reskilling atau Upskilling

Memulai reskilling atau upskilling tidak harus dilakukan dengan langkah yang besar. Grameds bisa memulainya dengan menyesuaikan kebutuhan dan tujuan karir yang ingin dicapai. Berikut beberapa tips yang bisa dicoba:

  1. Kenali tujuan kariermu
    Tentukan terlebih dahulu apakah kamu ingin berkembang di bidang yang sedang ditekuni atau justru mencoba jalur karier baru. Dengan mengetahui tujuan tersebut, kamu akan lebih mudah menentukan keterampilan yang perlu dipelajari.
  2. Pelajari keterampilan yang sedang dibutuhkan
    Cari tahu tren dan kebutuhan industri melalui lowongan kerja, seminar, atau laporan dunia kerja. Dengan begitu, keterampilan yang dipelajari akan lebih relevan dengan perkembangan saat ini.
  3. Manfaatkan berbagai sumber belajar
    Saat ini banyak pilihan untuk mengembangkan kemampuan, mulai dari buku, kursus online, webinar, workshop, hingga sertifikasi profesional. Pilih metode belajar yang paling sesuai dengan kebutuhan dan gaya belajarmu.
  4. Belajar secara konsisten
    Tidak perlu mempelajari banyak hal sekaligus. Luangkan waktu secara rutin, misalnya 30 menit hingga satu jam setiap hari, agar proses belajar terasa lebih ringan dan hasilnya lebih optimal.
  5. Praktikkan kemampuan yang dipelajari
    Ilmu akan lebih mudah dipahami jika langsung diterapkan. Grameds bisa mencoba membuat proyek sederhana, mengikuti organisasi atau komunitas, hingga mengambil freelance atau magang untuk menambah pengalaman.

Grameds, tidak ada kata terlambat untuk mulai mengembangkan diri. Baik melalui reskilling maupun upskilling, setiap keterampilan baru yang dipelajari dapat menjadi bekal berharga untuk menghadapi dunia kerja yang terus berkembang. Jadi, menurutmu, saat ini kamu sedang membutuhkan upskilling atau justru reskilling?


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.