Innovation, Transformed.

Bersama Gramedia, menginspirasi Indonesia menuju masa depan yang cemerlang.

Who we are?

Gramedia berdiri pada tahun 1970, PT Gramedia Asri Media atau kerap dikenal menjadi Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group.
56 Tahun
#TumbuhBermakna
3513 Pegawai
Di seluruh Indonesia
1700+ Buku
Tercetak di Indonesia selama tahun 2024
1000+ Events
Berhasil dilaksanakan
Temukan kisah dan perjalanan kami disini!

Terus berkembang melampaui batas, membentuk masa depan yang lebih cerah melalui brand.

PT Gramedia Asri Media atau Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group yang berfokus pada bisnis ritel dengan buku, alat tulis, produk non-books sebagai produk utamanya. Selain itu, Gramedia juga bergerak di bidang pendidikan untuk kemajuan pengetahuan di nusantara.
Pelajari lebih lanjut tentang brand

Testimonials

Apa kata mereka tentang Gramedia?
Dr. Andreas
“Senang bisa collab dengan Penerbit Gramedia, karena bisa nerima ide-ide yang unik dari penulisnya!”
Dr. Andreas, Penulis
Brian Khrisna
“Sejak kecil, saya suka banget dateng ke Gramedia dan saya termotivasi kalo suatu saat buku saya harus ada di Gramedia, dan akhirnya bisa nerbitin buku di Gramedia.”
Brian Khrisna, Penulis
Yoyok
“Promexx sudah menjalin kerjasama dengan Gramedia lebih dari 20 tahun, dan selama menjalin kemitraan kedua belah pihak mendapat benefit yang bagus.”
Yoyok, Mitra Gramedia

Latest updates

See all
Benarkah Gen Z Dibilang "Lemah"? Memahami Gaya Kerja Gen Z Di Era Digital
17 March 2026

Benarkah Gen Z Dibilang "Lemah"? Memahami Gaya Kerja Gen Z Di Era Digital

#LiterasiAsik — Belakangan ini, Generasi Z atau yang sering disebut Gen Z cukup sering menjadi bahan perbincangan dalam dunia kerja. Tidak sedikit yang menilai bahwa generasi ini kurang tangguh, mudah menyerah, atau bahkan dianggap “lemah” ketika menghadapi tekanan pekerjaan.

Pandangan tersebut muncul karena perbedaan cara pandang antara generasi muda dengan generasi sebelumnya dalam melihat pekerjaan dan kehidupan profesional.

Gen Z sendiri merupakan generasi yang lahir sekitar tahun 1997 hingga 2010 dan tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital yang sangat pesat. Lingkungan ini membentuk cara berpikir, gaya komunikasi, hingga cara mereka memandang pekerjaan. 

Dalam sebuah survei di Amerika Serikat terhadap hampir 1.000 pemberi kerja, ditemukan bahwa sebagian perusahaan merasa ragu untuk merekrut lulusan baru karena dianggap belum memenuhi ekspektasi kerja. Temuan ini kemudian memicu berbagai diskusi tentang kesiapan generasi muda dalam menghadapi dunia profesional.


Mengapa Stereotip tentang Gen Z di Dunia Kerja Muncul?

Perbedaan karakter antara generasi sebenarnya merupakan hal yang wajar. Setiap generasi tumbuh dalam kondisi sosial, budaya, dan teknologi yang berbeda. 

Salah satunya adalah sikap Gen Z yang lebih menyuarakan work-life balance. Bagi generasi ini, pekerjaan memang penting, tetapi keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi juga tidak kalah penting.

Selain itu, Gen Z juga dikenal lebih terbuka dalam membicarakan kesehatan mental. Jika sebelumnya topik ini jarang dibahas di lingkungan kerja, kini semakin banyak generasi muda berani menyuarakan pentingnya lingkungan kerja yang sehat dan memberi ruang bertumbuh.

Perbedaan-perbedaan inilah yang terkadang memunculkan kesalahpahaman antara generasi di tempat kerja.


Kelebihan Gen Z di Dunia Kerja

Di balik berbagai stereotip yang beredar, Gen Z sebenarnya memiliki banyak potensi yang justru sangat dibutuhkan dalam dunia kerja modern.

1. Adaptif dengan teknologi
Sebagai generasi yang tumbuh bersama internet, Gen Z cenderung lebih cepat memahami berbagai teknologi digital. Hal ini membuat Gen Z mudah beradaptasi dengan berbagai platform kerja, aplikasi digital, hingga perkembangan teknologi baru.

2. Kreatif dan cepat belajar
Luasnya arus informasi membuat Gen Z terbiasa mencari pengetahuan dari berbagai sumber. Hal ini mendorong mereka untuk terus belajar dan mengembangkan keterampilan baru secara mandiri.

3. Berani menyampaikan ide
Gen Z dikenal berani menyampaikan pendapat dan ide baru. Dalam lingkungan kerja yang terbuka, hal ini dapat menjadi inovasi dan membantu tim menemukan solusi yang lebih kreatif.


Tips untuk Gen Z Lebih Siap Menghadapi Dunia Kerja

Meski memiliki banyak kelebihan, tetap ada beberapa hal yang bisa dikembangkan agar Gen Z semakin siap menghadapi dunia kerja.

1. Tingkatkan komunikasi profesional
Kemampuan komunikasi yang jelas dan profesional sangat penting di tempat kerja, baik saat berbicara dengan rekan tim maupun atasan.

2. Bangun disiplin kerja
Konsistensi, tanggung jawab, serta kemampuan mengelola waktu menjadi hal yang sangat dihargai dalam lingkungan profesional.

3. Belajar berkolaborasi lintas generasi
Dunia kerja seringkali terdiri dari berbagai generasi dengan cara berpikir yang berbeda. Memahami sudut pandang lain dapat membantu menciptakan kerja sama yang efektif.

Perbedaan cara kerja antara generasi sebenarnya merupakan hal yang wajar. Setiap generasi tumbuh dalam situasi dan perkembangan zaman yang berbeda, sehingga cara mereka memandang pekerjaan pun tidak selalu sama.

Alih-alih melihatnya sebagai kelemahan, memahami karakteristik Gen Z justru dapat membantu dunia kerja berkembang menjadi lebih adaptif. Dengan saling memahami, setiap generasi dapat saling melengkapi dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik di masa depan.



Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id

Mudik Lebaran Lebih Asyik jika Ditemani Bacaan Menarik
13 March 2026

Mudik Lebaran Lebih Asyik jika Ditemani Bacaan Menarik

#HappeningToday — Menjelang Hari Raya Idul Fitri, tradisi mudik kembali menjadi momen yang paling ditunggu oleh banyak orang di Indonesia. Setiap tahunnya, jutaan masyarakat melakukan perjalanan menuju kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga dan merayakan Lebaran. Bagi Grameds yang juga bersiap untuk mudik, perjalanan pulang ini tentu menjadi momen yang penuh makna untuk kembali bertemu dengan orang-orang tercinta.

Namun, perjalanan mudik seringkali memakan waktu yang cukup lama dan waktu di perjalanan bisa terasa cukup panjang. Mulai dari kemacetan di jalan, waktu menunggu di stasiun atau bandara, hingga perjalanan berjam-jam di dalam kendaraan menjadi pengalaman yang cukup familiar saat musim mudik tiba.

Agar perjalanan tidak terasa membosankan, banyak orang biasanya menyiapkan berbagai cara untuk mengisi waktu. Mulai dari mendengarkan musik, scrolling media sosial, bermain game, atau sekadar berbincang. Selain berbagai aktivitas tersebut, membaca buku juga bisa menjadi pilihan yang menyenangkan untuk menemani perjalanan mudik, Grameds. Dengan membaca buku, kita bisa sejenak “melupakan” panjangnya perjalanan dan larut dalam cerita yang sedang dibaca. Tanpa terasa, waktu pun bisa berjalan lebih cepat ketika sudah tenggelam dalam alur cerita yang menarik. 

Agar tetap nyaman dibaca selama perjalanan, buku dengan cerita yang ringan biasanya menjadi pilihan yang tepat. Novel dengan alur yang mengalir, kish yang menghibur, atau cerita yang hangat akan lebih mudah dinikmati tanpa membutuhkan konsentrasi yang terlalu berat.

Berikut beberapa rekomendasi bacaan ringan yang bisa menemani perjalanan mudik:

Pasta Kacang Merah — Durian Sukegawa

Novel ini mengisahkan Sentaro, seorang pria yang bekerja di kedai dorayaki kecil. Suatu hari ia bertemu dengan Tokue, seorang wanita tua yang menawarkan bantuan untuk membuat pasta kacang merah yang menjadi isi dorayaki tersebut. Awalnya Sentaro ragu, tetapi keahlian Tokue dalam membuat pasta kacang merah perlahan membawa perubahan pada kedai tersebut. Di balik cerita sederhana tentang makanan, novel ini menghadirkan kisah yang hangat tentang persahabatan, penerimaan diri, serta cara melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

The Midnight Library — Matt Haig

Novel ini mengikuti kisah Nora Seed yang menemukan sebuah perpustakaan misterius di antara kehidupan dan kematian. Di dalam perpustakaan tersebut, setiap buku mewakili kehidupan berbeda yang mungkin ia jalani jika membuat pilihan yang lain di masa lalu. Melalui berbagai kemungkinan hidup yang ia coba, Nora mulai memahami arti penyesalan, harapan, dan kesempatan kedua. Dengan alur yang mengalir dan konsep cerita yang unik, buku ini mengajak pembaca merenungkan berbagai pilihan hidup dengan cara yang ringan namun tetap menyentuh.

Janji — Tere Liye

Novel karya Tere Liye ini menghadirkan cerita yang penuh misteri sekaligus menyentuh tentang perjalanan hidup seorang tokoh bernama Bahar. Kisahnya dimulai ketika beberapa orang berkumpul dan perlahan mengungkap masa lalu Bahar yang penuh rahasia. Seiring cerita berkembang, pembaca diajak memahami berbagai peristiwa yang membentuk hidupnya serta janji-janji yang memiliki makna mendalam. Dengan gaya penulisan yang khas dan alur yang membuat penasaran, novel ini menghadirkan cerita tentang persahabatan, pengorbanan, dan makna dari sebuah janji.

Rumah — J.S. Khairen

Novel ini menghadirkan kisah yang hangat tentang arti “rumah” dan hubungan antar manusia. Melalui cerita yang sederhana namun penuh makna, pembaca diajak melihat bagaimana rumah tidak selalu sekadar tempat tinggal, tetapi juga ruang untuk kembali, berbagi, dan menemukan kenyamanan. Dengan gaya penceritaan yang ringan dan emosional, buku ini menghadirkan refleksi tentang keluarga, perjalanan hidup, serta arti pulang bagi setiap orang.

Please Look after Mom — Kyung Sook Shin

Novel ini bercerita tentang sebuah keluarga yang menyadari bahwa ibu mereka hilang di sebuah stasiun kereta di Seoul. Peristiwa tersebut membuat setiap anggota keluarga mulai mengingat kembali kenangan, pengorbanan, dan kasih sayang sang ibu yang selama ini sering terabaikan. Dengan sudut pandang yang bergantian dari setiap anggota keluarga, buku ini menghadirkan kisah yang menyentuh tentang keluarga, cinta, dan pentingnya menghargai orang-orang terdekat dalam hidup.

Dengan memilih bacaan yang menarik, perjalanan mudik yang panjang bisa terasa lebih menyenangkan. Jadi, sebelum berangkat menuju kampung halaman, tidak ada salahnya menyiapkan satu atau dua buku favorit untuk menemani perjalanan ya, Grameds.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

7 Rekomendasi Buku Fantasi untuk Kamu yang Suka Petualangan
12 March 2026

7 Rekomendasi Buku Fantasi untuk Kamu yang Suka Petualangan

#LiterasiAsik — Buku fantasi selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi para pembaca. Melalui cerita yang penuh imajinasi, pembaca diajak menjelajahi dunia yang berbeda dari kehidupan sehari-hari, mulai dari dunia sihir, makhluk mitologi, hingga dunia paralel yang penuh misteri. Tak heran jika genre fantasi menjadi salah satu genre yang banyak digemari oleh berbagai kalangan.Selain menghadirkan petualangan yang seru, buku fantasi juga sering kali menyisipkan nilai tentang persahabatan, keberanian, hingga perjalanan menemukan jati diri. Jika Grameds sedang mencari bacaan dengan cerita yang penuh imajinasi, beberapa buku fantasi berikut bisa menjadi pilihan menarik untuk dibaca:

  1. Bumi — Tere Liye

    Awal dari serial fantasi populer tentang petualangan Raib, Seli, dan Ali yang menemukan keberadaan dunia paralel dengan berbagai klan dan kekuatan unik. Dalam perjalanan mereka, ketiganya harus menghadapi berbagai tantangan, rahasia dunia lain, serta konflik yang semakin besar di setiap buku dalam seri ini. Melalui rangkaian cerita yang penuh aksi, misteri, dan petualangan, novel ini mengajak pembaca menjelajahi sebuah universe baru yang berbeda dari kehidupan manusia biasa.

2. Di Tanah Lada — Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Novel ini menceritakan tentang kehidupan seorang anak bernama Ava, gadis kecil berusia 6 tahun yang sering mendapat tindak kekerasan dari ayahnya. Ava bertemu dengan anak laki-laki. Dari pertemuan tersebut, Ava memulai petualangan yang mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Dengan sudut pandang anak yang polos dan imajinatif, cerita ini menghadirkan kisah yang sederhana namun penuh makna tentang persahabatan, keberanian, dan harapan.

3. Keajaiban Toko Kelontong Namiya — Keigo Higashino

Novel ini menghadirkan cerita dengan sentuhan magical realism tentang sebuah toko kelontong yang memiliki kemampuan misterius: menerima surat dari masa lalu. Orang-orang yang menuliskan masalah mereka akan mendapatkan balasan berupa saran yang sering kali mengubah arah hidup mereka. Melalui kisah yang saling terhubung, novel ini menghadirkan cerita yang hangat, menyentuh, dan mengajak pembaca merenungkan berbagai pilihan hidup.

4. The Red Palace — June Hur

Novel ini menghadirkan kisah misteri yang berlatar di istana kerajaan Korea pada masa Dinasti Joseon. Ceritanya mengikuti seorang perawat istana yang terlibat dalam penyelidikan pembunuhan yang berkaitan dengan keluarga kerajaan. Dalam usahanya mengungkap kebenaran, ia harus menghadapi berbagai rahasia, intrik politik, serta bahaya yang mengancam dirinya. Alur cerita yang penuh ketegangan membuat novel ini terasa menarik bagi pembaca yang menyukai misteri dengan nuansa sejarah dan intrik kerajaan.

5. Lonely Castle in the Mirror — Mizuki Tsujimura

Novel ini bercerita tentang sekelompok remaja yang menemukan sebuah kastil misterius melalui cermin di kamar mereka. Di dalam kastil tersebut, mereka diberi sebuah teka-teki yang harus dipecahkan bersama. Selama berada di tempat itu, para remaja ini juga perlahan mulai berbagi cerita tentang kehidupan mereka, termasuk berbagai luka dan kesulitan yang mereka hadapi di dunia nyata. Kisah ini menghadirkan perpaduan antara fantasi, misteri, dan cerita yang menyentuh tentang persahabatan serta proses memahami diri sendiri.

6. Harry Potter — J. K. Rowling

Seri fantasi legendaris ini membawa pembaca ke dunia sihir Hogwarts yang penuh petualangan. Kisahnya mengikuti perjalanan Harry Potter, seorang anak yang mengetahui bahwa dirinya adalah penyihir dan kemudian belajar di sekolah sihir bersama sahabatnya, Ron dan Hermione. Sepanjang seri, mereka menghadapi berbagai tantangan, misteri, dan ancaman dari kekuatan gelap. Selain menghadirkan dunia sihir yang menarik, cerita ini juga menyoroti nilai persahabatan, keberanian, dan pengorbanan.

7. Percy Jackson & the Olympians — Rick Riordan

Novel ini mengikuti petualangan Percy Jackson, seorang remaja yang menemukan bahwa dirinya adalah anak dari salah satu dewa Yunani. Penemuan tersebut membuat Percy terlibat dalam berbagai petualangan yang penuh bahaya, mulai dari menghadapi makhluk mitologi hingga menjalani misi penting untuk para dewa. Dengan alur yang cepat dan penuh aksi, seri ini menghadirkan kisah yang seru sekaligus memperkenalkan pembaca pada berbagai tokoh dalam mitologi Yunani.

Berbagai buku fantasi di atas menghadirkan dunia cerita yang berbeda-beda, mulai dari dunia sihir, mitologi, hingga kisah magis yang menyentuh kehidupan manusia. Dengan alur yang seru dan penuh imajinasi, buku-buku ini dapat menjadi pilihan menarik bagi Grameds yang ingin membaca buku dengan genre fantasi.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Gramedia Perluas Ekosistem Literasi di 2026, Hadirkan Eka Kurniawan dalam Dialog Bersama Media
11 March 2026

Gramedia Perluas Ekosistem Literasi di 2026, Hadirkan Eka Kurniawan dalam Dialog Bersama Media

Jakarta, 10 Maret 2026 — Gramedia menggelar kegiatan media gathering bertajuk JEDA: Jendela Edukasi & Dialog Media di Tjikini Lima, Jakarta Pusat, Selasa (10/3). Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara Gramedia dan media untuk membahas perkembangan literasi, arah program Gramedia di tahun 2026, serta memperkuat kolaborasi dalam mendorong budaya membaca di Indonesia. 

Acara ini menghadirkan Director of Corporate Secretary, Yosef Adityo Nugroho, yang memaparkan berbagai capaian, inovasi, serta rencana pengembangan ekosistem Gramedia ke depan. Dalam pemaparannya, Gramedia menegaskan komitmennya untuk terus memperluas akses terhadap buku, pengetahuan, dan inspirasi melalui jaringan ritel yang luas, platform digital, serta kolaborasi dengan komunitas dan institusi pendidikan.

Director of Corporate Secretary, Yosef Adityo Nugroho memaparkan perkembangan dan rencana pengembangan ekosistem Gramedia kepada media.

Saat ini Gramedia memiliki 148 toko yang tersebar di berbagai kota di Indonesia dan menargetkan ekspansi hingga 15 toko baru pada tahun 2026 sebagai bagian dari penguatan jaringan ritel dan ekosistem literasi di berbagai daerah. 

Selain memperluas jaringan toko, Gramedia juga terus menghadirkan inovasi melalui pengembangan konsep outlet baru yang dirancang untuk memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung. Beberapa konsep tersebut antara lain Gramedia Jalma, Prose & Petals, dan Makarya, yang menggabungkan elemen literasi, kreativitas, serta gaya hidup dalam satu ruang inspiratif. Pada tahun 2026, Gramedia juga akan menghadirkan Gramedia Jalma Pandanaran di Semarang, yang menjadi cabang terbaru dari konsep Gramedia Jalma. Kehadiran konsep-konsep inovatif ini merupakan bagian dari transformasi Gramedia dalam menghadirkan pengalaman literasi yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini, sekaligus memperkuat posisinya sebagai literacy & lifestyle ecosystem yang menghubungkan buku, komunitas, kreativitas, dan ruang inspirasi. 

“Selama 56 tahun, Gramedia tidak hanya hadir sebagai jaringan toko buku, tetapi juga sebagai ruang bertemunya ide, pengetahuan, dan kreativitas. Melalui berbagai inovasi dan kolaborasi, kami ingin memastikan literasi dapat diakses lebih luas oleh masyarakat Indonesia,” ujar Yosef Adityo.

Selain pengembangan jaringan toko, Gramedia juga terus memperkuat portofolio homebrand yang berfokus pada produk kreatif dan kebutuhan gaya hidup. Melalui brand seperti Estudee untuk kebutuhan alat tulis dan sekolah, Eversac untuk tas dan produk lifestyle, serta Kukiko untuk produk kreatif anak, Gramedia menghadirkan berbagai pilihan produk yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Gramedia juga memperluas ekosistemnya hingga ke industri kreatif melalui rumah produksi miliknya, Rekata Studio, yang menjembatani dunia literasi dengan industri film. Salah satu karya yang akan hadir tahun ini adalah film “Para Perasuk” yang dijadwalkan tayang pada 23 April 2026. Melalui Rekata Studio, Gramedia berupaya mengadaptasi cerita dan gagasan dari dunia literasi menjadi karya audio-visual yang dapat menjangkau audiens yang lebih luas. 

Selain sesi pemaparan mengenai strategi dan inovasi Gramedia, kegiatan JEDA juga menghadirkan diskusi buku bersama penulis Indonesia, Eka Kurniawan, yang berbagi cerita mengenai proses kreatif penulisan, inspirasi di balik karya-karyanya, serta pandangannya terhadap perkembangan dunia literasi dan pembaca di Indonesia. Dalam perbincangan tersebut, Eka juga membagikan sedikit gambaran mengenai novel terbarunya yang berjudul Coreng Hitam, yang direncanakan akan segera terbit setelah Lebaran.

Eka menjelaskan bahwa Coreng Hitam berangkat dari gagasan sederhana tentang “noda” dalam kehidupan manusia. Ia mengajak pembaca merefleksikan bagaimana seseorang memandang kesalahan, kekurangan, atau hal yang dianggap mengganggu dalam hidup. “Kalau kita memiliki noda atau coreng dalam hidup, apa yang kita lakukan? Lalu bagaimana jika kita melihat orang yang menyebalkan dan kemudian kita menganggapnya sebagai ‘coreng hitam’ dalam hidup kita?” ujar Eka, menggambarkan ide dasar yang menjadi benang merah dalam novel tersebut.

Editor Senior Sastra Gramedia Pustaka Utama, Mirna Yulistianti, turut mengungkapkan bahwa novel terbaru Eka akan menghadirkan pendekatan tema yang berbeda dibandingkan karya-karya sebelumnya. Ia juga menyebut bahwa novel tersebut akan hadir dalam format yang cukup tebal, mendekati 500 halaman. Menurut Mirna, seperti karya-karya Eka sebelumnya, novel ini tetap membawa tema yang berani dan tidak selalu berada di wilayah yang “aman”. “Karya-karya Eka selama ini selalu menggugat pembacanya, kadang bahkan disalahartikan oleh pembaca. Novel barunya pun memiliki semangat yang sama,” ujarnya.

Kehadiran sesi diskusi ini menjadi kesempatan bagi rekan media untuk melihat lebih dekat proses kreatif seorang penulis yang karya-karyanya telah dikenal luas, baik di tingkat nasional maupun internasional, sekaligus memberikan gambaran awal mengenai karya terbaru yang akan segera hadir bagi para pembaca Indonesia.

Sepanjang tahun 2026, Gramedia juga akan menghadirkan berbagai program literasi dan kegiatan komunitas untuk menjangkau lebih banyak masyarakat. Beberapa program utama yang akan diselenggarakan antara lain Pesta Literasi Indonesia, festival literasi yang menghadirkan diskusi buku, workshop, pameran seni, hingga pertunjukan berbasis cerita dari buku; Happy Family Coloring, lomba mewarnai anak yang mengajak keluarga berpartisipasi dalam aktivitas kreatif sekaligus kegiatan sosial; serta CERIA: Cerita Anak Gramedia, program literasi nasional berbasis lomba kepenulisan bagi anak-anak Indonesia.

Selain itu, Gramedia juga terus menjalankan berbagai inisiatif edukasi dan literasi lainnya seperti Ngaji Literasi yang menyasar institusi pendidikan, hingga berbagai program komunitas berbasis minat yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk belajar, berkarya, dan berkolaborasi.

Melalui program JEDA: Jendela Edukasi & Dialog Media ini, Gramedia berharap dapat memperkuat hubungan dengan media sebagai mitra strategis dalam menyebarkan semangat literasi kepada masyarakat. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya Gramedia untuk membangun ekosistem literasi yang tidak hanya berfokus pada buku, tetapi juga mencakup komunitas, edukasi, kreativitas, dan gaya hidup. Inisiatif ini diharapkan dapat terus memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia dan mendorong literasi untuk #TumbuhBermakna.

Tips Merawat Buku Favorit agar Tidak Cepat Menguning
10 March 2026

Tips Merawat Buku Favorit agar Tidak Cepat Menguning

#LiterasiAsik — Bagi para pecinta buku, menjaga koleksi tetap dalam kondisi baik tentu menjadi hal yang penting. Buku favorit seringkali memiliki nilai lebih, baik karena ceritanya yang berkesan maupun kenangan saat pertama kali membacanya. Namun seiring waktu, banyak buku yang mulai berubah warna menjadi kekuningan. Hal ini biasanya terjadi karena proses alami pada kertas serta pengaruh lingkungan tempat buku disimpan.


Kertas pada buku umumnya mengandung senyawa yang dapat bereaksi dengan udara, cahaya, dan kelembapan. Jika tidak disimpan dengan baik, halaman buku bisa menjadi kusam, rapuh, bahkan mudah rusak. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui beberapa cara sederhana agar buku tetap terawat dan tidak cepat menguning.


Simpan Buku di Tempat yang Kering
Kelembaban tinggi dapat mempercepat kerusakan kertas serta memicu munculnya jamur. Pastikan buku disimpan di tempat yang kering dengan sirkulasi udara yang baik. Hindari menyimpan buku di area yang terlalu lembab seperti dekat kamar mandi atau lantai yang sering terkena air.


Hindari Paparan Sinar Matahari Langsung
Sinar matahari yang mengenai buku secara langsung dalam waktu lama dapat mempercepat perubahan warna pada kertas. Jika rak buku berada di dekat jendela, sebaiknya pastikan buku tidak terkena sinar matahari langsung atau gunakan tirai untuk mengurangi paparan cahaya.


Gunakan Sampul Pelindung Buku
Memberikan sampul pelindung pada buku dapat membantu menjaga kebersihan serta melindungi bagian luar buku dari debu dan kotoran. Sampul plastik transparan sering digunakan karena praktis dan tetap memungkinkan judul buku terlihat dengan jelas.


Jaga Kebersihan Rak Buku
Debu yang menumpuk di rak buku dapat membuat halaman menjadi kotor dan kusam. Bersihkan rak secara berkala menggunakan kain kering atau lap lembut. Sesekali keluarkan buku dari rak untuk membersihkan bagian samping halaman yang sering terkena debu.


Simpan Buku dengan Posisi yang Tepat
Menyusun buku secara tegak di rak akan membantu menjaga bentuknya tetap rapi. Hindari menumpuk terlalu banyak buku di atas satu sama lain karena dapat membuat buku tertekan dan merusak bagian sampul maupun halaman.


Merawat buku sebenarnya tidak memerlukan cara yang rumit. Dengan memperhatikan tempat penyimpanan, kebersihan, serta perlindungan yang tepat, buku favorit dapat tetap terjaga kualitasnya dalam waktu yang lama, Grameds. Selain membuat koleksi terlihat rapi, buku yang terawat juga akan tetap nyaman dibaca kapan saja.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.