Innovation, Transformed.

Bersama Gramedia, menginspirasi Indonesia menuju masa depan yang cemerlang.

Who we are?

Gramedia berdiri pada tahun 1970, PT Gramedia Asri Media atau kerap dikenal menjadi Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group.
55 Tahun
#TumbuhBersama masyarakat
3513 Pegawai
Di seluruh Indonesia
1700+ Buku
Tercetak di Indonesia selama tahun 2024
1000+ Events
Berhasil dilaksanakan
Temukan kisah dan perjalanan kami disini!

Terus berkembang melampaui batas, membentuk masa depan yang lebih cerah melalui brand.

PT Gramedia Asri Media atau Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group yang berfokus pada bisnis ritel dengan buku, alat tulis, produk non-books sebagai produk utamanya. Selain itu, Gramedia juga bergerak di bidang pendidikan untuk kemajuan pengetahuan di nusantara.
Pelajari lebih lanjut tentang brand

Testimonials

Apa kata mereka tentang Gramedia?
Dr. Andreas
“Senang bisa collab dengan Penerbit Gramedia, karena bisa nerima ide-ide yang unik dari penulisnya!”
Dr. Andreas, Penulis
Brian Khrisna
“Sejak kecil, saya suka banget dateng ke Gramedia dan saya termotivasi kalo suatu saat buku saya harus ada di Gramedia, dan akhirnya bisa nerbitin buku di Gramedia.”
Brian Khrisna, Penulis
Yoyok
“Promexx sudah menjalin kerjasama dengan Gramedia lebih dari 20 tahun, dan selama menjalin kemitraan kedua belah pihak mendapat benefit yang bagus.”
Yoyok, Mitra Gramedia

Latest updates

See all
Gramedia Perluas Ekosistem Literasi di 2026, Hadirkan Eka Kurniawan dalam Dialog Bersama Media
11 March 2026

Gramedia Perluas Ekosistem Literasi di 2026, Hadirkan Eka Kurniawan dalam Dialog Bersama Media

Jakarta, 10 Maret 2026 — Gramedia menggelar kegiatan media gathering bertajuk JEDA: Jendela Edukasi & Dialog Media di Tjikini Lima, Jakarta Pusat, Selasa (10/3). Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara Gramedia dan media untuk membahas perkembangan literasi, arah program Gramedia di tahun 2026, serta memperkuat kolaborasi dalam mendorong budaya membaca di Indonesia. 

Acara ini menghadirkan Director of Corporate Secretary, Yosef Adityo Nugroho, yang memaparkan berbagai capaian, inovasi, serta rencana pengembangan ekosistem Gramedia ke depan. Dalam pemaparannya, Gramedia menegaskan komitmennya untuk terus memperluas akses terhadap buku, pengetahuan, dan inspirasi melalui jaringan ritel yang luas, platform digital, serta kolaborasi dengan komunitas dan institusi pendidikan.

Director of Corporate Secretary, Yosef Adityo Nugroho memaparkan perkembangan dan rencana pengembangan ekosistem Gramedia kepada media.

Saat ini Gramedia memiliki 148 toko yang tersebar di berbagai kota di Indonesia dan menargetkan ekspansi hingga 15 toko baru pada tahun 2026 sebagai bagian dari penguatan jaringan ritel dan ekosistem literasi di berbagai daerah. 

Selain memperluas jaringan toko, Gramedia juga terus menghadirkan inovasi melalui pengembangan konsep outlet baru yang dirancang untuk memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung. Beberapa konsep tersebut antara lain Gramedia Jalma, Prose & Petals, dan Makarya, yang menggabungkan elemen literasi, kreativitas, serta gaya hidup dalam satu ruang inspiratif. Pada tahun 2026, Gramedia juga akan menghadirkan Gramedia Jalma Pandanaran di Semarang, yang menjadi cabang terbaru dari konsep Gramedia Jalma. Kehadiran konsep-konsep inovatif ini merupakan bagian dari transformasi Gramedia dalam menghadirkan pengalaman literasi yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini, sekaligus memperkuat posisinya sebagai literacy & lifestyle ecosystem yang menghubungkan buku, komunitas, kreativitas, dan ruang inspirasi. 

“Selama 56 tahun, Gramedia tidak hanya hadir sebagai jaringan toko buku, tetapi juga sebagai ruang bertemunya ide, pengetahuan, dan kreativitas. Melalui berbagai inovasi dan kolaborasi, kami ingin memastikan literasi dapat diakses lebih luas oleh masyarakat Indonesia,” ujar Yosef Adityo.

Selain pengembangan jaringan toko, Gramedia juga terus memperkuat portofolio homebrand yang berfokus pada produk kreatif dan kebutuhan gaya hidup. Melalui brand seperti Estudee untuk kebutuhan alat tulis dan sekolah, Eversac untuk tas dan produk lifestyle, serta Kukiko untuk produk kreatif anak, Gramedia menghadirkan berbagai pilihan produk yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Gramedia juga memperluas ekosistemnya hingga ke industri kreatif melalui rumah produksi miliknya, Rekata Studio, yang menjembatani dunia literasi dengan industri film. Salah satu karya yang akan hadir tahun ini adalah film “Para Perasuk” yang dijadwalkan tayang pada 23 April 2026. Melalui Rekata Studio, Gramedia berupaya mengadaptasi cerita dan gagasan dari dunia literasi menjadi karya audio-visual yang dapat menjangkau audiens yang lebih luas. 

Selain sesi pemaparan mengenai strategi dan inovasi Gramedia, kegiatan JEDA juga menghadirkan diskusi buku bersama penulis Indonesia, Eka Kurniawan, yang berbagi cerita mengenai proses kreatif penulisan, inspirasi di balik karya-karyanya, serta pandangannya terhadap perkembangan dunia literasi dan pembaca di Indonesia. Dalam perbincangan tersebut, Eka juga membagikan sedikit gambaran mengenai novel terbarunya yang berjudul Coreng Hitam, yang direncanakan akan segera terbit setelah Lebaran.

Eka menjelaskan bahwa Coreng Hitam berangkat dari gagasan sederhana tentang “noda” dalam kehidupan manusia. Ia mengajak pembaca merefleksikan bagaimana seseorang memandang kesalahan, kekurangan, atau hal yang dianggap mengganggu dalam hidup. “Kalau kita memiliki noda atau coreng dalam hidup, apa yang kita lakukan? Lalu bagaimana jika kita melihat orang yang menyebalkan dan kemudian kita menganggapnya sebagai ‘coreng hitam’ dalam hidup kita?” ujar Eka, menggambarkan ide dasar yang menjadi benang merah dalam novel tersebut.

Editor Senior Sastra Gramedia Pustaka Utama, Mirna Yulistianti, turut mengungkapkan bahwa novel terbaru Eka akan menghadirkan pendekatan tema yang berbeda dibandingkan karya-karya sebelumnya. Ia juga menyebut bahwa novel tersebut akan hadir dalam format yang cukup tebal, mendekati 500 halaman. Menurut Mirna, seperti karya-karya Eka sebelumnya, novel ini tetap membawa tema yang berani dan tidak selalu berada di wilayah yang “aman”. “Karya-karya Eka selama ini selalu menggugat pembacanya, kadang bahkan disalahartikan oleh pembaca. Novel barunya pun memiliki semangat yang sama,” ujarnya.

Kehadiran sesi diskusi ini menjadi kesempatan bagi rekan media untuk melihat lebih dekat proses kreatif seorang penulis yang karya-karyanya telah dikenal luas, baik di tingkat nasional maupun internasional, sekaligus memberikan gambaran awal mengenai karya terbaru yang akan segera hadir bagi para pembaca Indonesia.

Sepanjang tahun 2026, Gramedia juga akan menghadirkan berbagai program literasi dan kegiatan komunitas untuk menjangkau lebih banyak masyarakat. Beberapa program utama yang akan diselenggarakan antara lain Pesta Literasi Indonesia, festival literasi yang menghadirkan diskusi buku, workshop, pameran seni, hingga pertunjukan berbasis cerita dari buku; Happy Family Coloring, lomba mewarnai anak yang mengajak keluarga berpartisipasi dalam aktivitas kreatif sekaligus kegiatan sosial; serta CERIA: Cerita Anak Gramedia, program literasi nasional berbasis lomba kepenulisan bagi anak-anak Indonesia.

Selain itu, Gramedia juga terus menjalankan berbagai inisiatif edukasi dan literasi lainnya seperti Ngaji Literasi yang menyasar institusi pendidikan, hingga berbagai program komunitas berbasis minat yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk belajar, berkarya, dan berkolaborasi.

Melalui program JEDA: Jendela Edukasi & Dialog Media ini, Gramedia berharap dapat memperkuat hubungan dengan media sebagai mitra strategis dalam menyebarkan semangat literasi kepada masyarakat. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya Gramedia untuk membangun ekosistem literasi yang tidak hanya berfokus pada buku, tetapi juga mencakup komunitas, edukasi, kreativitas, dan gaya hidup. Inisiatif ini diharapkan dapat terus memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia dan mendorong literasi untuk #TumbuhBermakna.

Tips Merawat Buku Favorit agar Tidak Cepat Menguning
10 March 2026

Tips Merawat Buku Favorit agar Tidak Cepat Menguning

#LiterasiAsik — Bagi para pecinta buku, menjaga koleksi tetap dalam kondisi baik tentu menjadi hal yang penting. Buku favorit seringkali memiliki nilai lebih, baik karena ceritanya yang berkesan maupun kenangan saat pertama kali membacanya. Namun seiring waktu, banyak buku yang mulai berubah warna menjadi kekuningan. Hal ini biasanya terjadi karena proses alami pada kertas serta pengaruh lingkungan tempat buku disimpan.


Kertas pada buku umumnya mengandung senyawa yang dapat bereaksi dengan udara, cahaya, dan kelembapan. Jika tidak disimpan dengan baik, halaman buku bisa menjadi kusam, rapuh, bahkan mudah rusak. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui beberapa cara sederhana agar buku tetap terawat dan tidak cepat menguning.


Simpan Buku di Tempat yang Kering
Kelembaban tinggi dapat mempercepat kerusakan kertas serta memicu munculnya jamur. Pastikan buku disimpan di tempat yang kering dengan sirkulasi udara yang baik. Hindari menyimpan buku di area yang terlalu lembab seperti dekat kamar mandi atau lantai yang sering terkena air.


Hindari Paparan Sinar Matahari Langsung
Sinar matahari yang mengenai buku secara langsung dalam waktu lama dapat mempercepat perubahan warna pada kertas. Jika rak buku berada di dekat jendela, sebaiknya pastikan buku tidak terkena sinar matahari langsung atau gunakan tirai untuk mengurangi paparan cahaya.


Gunakan Sampul Pelindung Buku
Memberikan sampul pelindung pada buku dapat membantu menjaga kebersihan serta melindungi bagian luar buku dari debu dan kotoran. Sampul plastik transparan sering digunakan karena praktis dan tetap memungkinkan judul buku terlihat dengan jelas.


Jaga Kebersihan Rak Buku
Debu yang menumpuk di rak buku dapat membuat halaman menjadi kotor dan kusam. Bersihkan rak secara berkala menggunakan kain kering atau lap lembut. Sesekali keluarkan buku dari rak untuk membersihkan bagian samping halaman yang sering terkena debu.


Simpan Buku dengan Posisi yang Tepat
Menyusun buku secara tegak di rak akan membantu menjaga bentuknya tetap rapi. Hindari menumpuk terlalu banyak buku di atas satu sama lain karena dapat membuat buku tertekan dan merusak bagian sampul maupun halaman.


Merawat buku sebenarnya tidak memerlukan cara yang rumit. Dengan memperhatikan tempat penyimpanan, kebersihan, serta perlindungan yang tepat, buku favorit dapat tetap terjaga kualitasnya dalam waktu yang lama, Grameds. Selain membuat koleksi terlihat rapi, buku yang terawat juga akan tetap nyaman dibaca kapan saja.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Apa Itu FOMO? Kenali Istilah yang Sering Muncul di Era Media Sosial
05 March 2026

Apa Itu FOMO? Kenali Istilah yang Sering Muncul di Era Media Sosial

#LiterasiAsik — Pernah merasa gelisah saat melihat teman-temanmu menghadiri acara seru, mencoba tempat baru, atau mengikuti tren terbaru di media sosial? Tanpa sadar, kamu jadi terus membuka aplikasi, memastikan tidak ada yang terlewat. Jika pernah merasakan hal itu, bisa jadi kamu sedang mengalami FOMO.

Apa Itu FOMO?

FOMO merupakan singkatan dari Fear of Missing Out. Istilah ini merujuk pada perasaan cemas atau gelisah ketika merasa tertinggal dari pengalaman, informasi, atau momen yang dialami orang lain. Di era media sosial, FOMO semakin sering muncul karena kita bisa melihat aktivitas orang lain secara real time.

Melalui Instagram, TikTok, atau X, kita seakan-akan selalu tahu apa yang sedang terjadi. Namun di sisi lain, paparan tersebut juga membuat kita terus membandingkan diri dengan orang lain mulai dari pencapaian, gaya hidup, hingga lingkar pertemanan.

Kenapa Orang Bisa Mengalami FOMO?

Ada beberapa faktor yang membuat FOMO mudah muncul, terutama di era digital:

Perbandingan sosial
Melihat pencapaian atau keseruan orang lain bisa memicu perasaan kurang puas terhadap hidup sendiri. Padahal, yang terlihat di media sosial sering kali hanya potongan terbaik dari kehidupan seseorang.

Kebutuhan untuk merasa terhubung
Sebagai makhluk sosial, kita ingin merasa menjadi bagian dari suatu kelompok. Ketika merasa “tidak ikut”, muncul kekhawatiran akan dianggap tertinggal atau tidak relevan.

Akses informasi tanpa henti
Timeline yang terus bergerak dan notifikasi yang berdatangan membuat kita merasa harus selalu update agar tidak ketinggalan tren atau pembicaraan terbaru.

Tekanan untuk selalu produktif dan eksis
Di era serba cepat, ada dorongan untuk terus terlihat aktif, berprestasi, dan terlibat dalam berbagai hal. Akibatnya, muncul rasa bersalah ketika memilih beristirahat atau tidak ikut suatu kegiatan.

Dampak FOMO bagi Kesehatan Mental

Jika dibiarkan, FOMO bisa membuat seseorang sulit fokus, mudah terdistraksi, bahkan merasa lelah secara emosional. Keinginan untuk selalu terhubung juga dapat mengganggu waktu istirahat dan kualitas hubungan di dunia nyata.

FOMO bukan berarti kita tidak boleh menikmati media sosial. Namun, penting untuk menyadari batasannya. Tidak semua hal perlu diikuti, tidak semua tren harus dicoba, dan tidak semua momen harus dibagikan.

Hidup bukan tentang selalu hadir di setiap tempat atau mengikuti setiap perkembangan terbaru, Grameds. Ada kalanya, memilih untuk berhenti sejenak dan fokus pada diri sendiri justru membantu kita untuk lebih tenang dan menikmati momen. 


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Sherina Bintangi Film Filosofi Teras, Kenali Dulu Makna di Balik Bukunya
03 March 2026

Sherina Bintangi Film Filosofi Teras, Kenali Dulu Makna di Balik Bukunya

#HappeningToday — Kabar bahwa Sherina Munaf akan terlibat dalam film adaptasi Filosofi Teras langsung menarik perhatian publik. Namun, sebelum menyaksikan versi karya lebarnya, ada baiknya kita memahami lebih dalam makna dan latar belakang buku yang telah mengubah cara banyak orang memandang hidup ini.

Lahir dari Pengalaman Personal 

Filosofi Teras merupakan karya Henry Manampiring yang pertama kali terbit pada 2018. Buku ini tidak hanya menjadi pengantar filsafat populer. Buku ini lahir dari pengalaman personal sang penulis yang pada 2017 didiagnosis mengalami major depressive disorder

Dalam proses pengobatannya, Henry menemukan buku How to Be a Stoic karya Massimo Pigliucci. Dari sanalah ia berkenalan dengan ajaran stoisisme yang merupakan sebuah aliran filsafat Yunani kuno yang terasa seperti "terapi tanpa obat". Dengan mempraktikkan ajaran tersebut, ia merasa lebih tenang dan mampu mengelola emosi negatifnya. 

Karena belum banyak buku berbahasa Indonesia yang membahas stoisisme secara praktis dan relevan dengan konteks yang lebih modern, Henry pun menulis FIlosofi Teras dengan harapan pembaca Indonesia bisa menemukan ketenangan yang sama. Alih-alih terasa berat atau akademis, pembahasannya justru dikemas dengan bahasa ringan dan contoh yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Apa itu Stoisisme?

Stoisisme berasal dari ajaran Zeno of Citium. Kata “stoa” sendiri merujuk pada serambi atau teras Zeno mengajar murid-muridnya. Dari sinilah judul Filosofi Teras muncul yang merupakan bentuk terjemahan yang lebih mudah diucapkan dan terasa akrab di telinga pembaca Indonesia.

Stoisisme merupakan ajaran yang berfokus pada pengelolaan pikiran secara rasional untuk mencapai ketenangan batin yang lebih stabil. Filsafat ini mengajak seseorang untuk tidak dikuasai oleh emosi yang muncul secara reaktif, seperti kemarahan berlebihan atau rasa takut. Seorang penganut Stoik bukan berarti menekan atau menghilangkan perasaan, melainkan melatih diri agar mampu merespons emosi dengan lebih terkendali dan bijaksana.

Seorang penganut Stoisisme menempatkan ketahanan mental sebagai prioritas utama, yakni kemampuan untuk tetap teguh meski menghadapi hal-hal di luar kendalinya. Dalam pandangan ini, kebahagiaan tidak ditentukan oleh harta, pujian, atau status sosial, melainkan oleh kualitas sikap dan kebajikan yang dimiliki seseorang. Tujuan akhirnya adalah mencapai eudaimonia, yaitu kehidupan yang bermakna, dijalani dengan kebajikan, serta selaras dengan nilai dan tatanan kehidupan yang lebih luas.

Apa makna di balik buku ini?

Secara sederhana, Filosofi Teras mengajak pembaca untuk memahami satu hal penting: tidak semua hal berada dalam kendali kita. Buku ini menyoroti bagaimana sering kali rasa cemas, marah, atau kecewa muncul karena kita terlalu fokus pada hal-hal di luar kuasa diri sendiri seperti pendapat orang lain, situasi yang tak terduga, atau masa depan yang belum pasti.

Melalui pembahasan ringan dan contoh-contoh konkret, buku ini membantu pembacanya untuk belajar memilah mana yang bisa dikendalikan dan mana yang perlu diterima. Dari situ, muncul cara pandang yang lebih tenang dalam menghadapi masalah, tekanan pekerjaan, konflik relasi, hingga kekhawatiran sehari-hari. 

Tak heran jika banyak anak muda merasa relate dengan isi buku ini. Di tengah era serba cepat dan penuh distraksi, gagasan tentang menjaga pikiran tetap rasional dan tidak reaktif terasa semakin relevan. Filosofi Teras menjadi semacam pengingat untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan melihat persoalan dengan lebih jernih.

Buku Filosofi Teras

Dengan diangkatnya buku ini ke layar lebar, publik tentu penasaran bagaimana gagasan yang selama ini hadir dalam bentuk narasi akan diterjemahkan menjadi cerita visual. Apakah esensi ketenangan dan pengendalian diri yang menjadi inti bukunya bisa terasa kuat dalam format film?

Sebelum menyaksikan versi sinemanya nanti, mungkin ini saat yang tepat untuk mengenal atau kembali membaca Filosofi Teras dan memahami pesan yang membuatnya begitu berkesan bagi banyak orang.

Jadi, Grameds, sudah siap melihat bagaimana makna di balik Filosofi Teras diterjemahkan ke layar lebar? Atau justru jadi makin penasaran untuk membaca bukunya lebih dulu?


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Lelah dengan Media Sosial? Saatnya Coba Digital Detox
02 March 2026

Lelah dengan Media Sosial? Saatnya Coba Digital Detox

#LiterasiAsik — Pernah merasa lelah karena terlalu lama scroll media sosial? Niatnya hanya lima menit, tiba-tiba sudah satu jam berlalu. Notifikasi terus berdatangan, timeline terasa tak ada habisnya, dan tanpa sadar suasana hati ikut naik turun karena apa yang kita lihat di layar.

Di era serba digital, media sosial memang menjadi bagian dari keseharian. Dari mencari informasi, mengikuti tren, hingga menjaga koneksi dengan teman dan keluarga, semuanya terasa lebih praktis. Namun, paparan konten yang terus menerus juga bisa memicu kelelahan mental, overthinking, bahkan perasaan tertinggal.

Apa Itu Digital Detox?

Digital detox adalah upaya sadar untuk membatasi, atau bahkan berhenti sementara, dari penggunaan perangkat digital terutama media sosial. Tujuannya bukan untuk “anti teknologi”, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dari distraksi yang berlebihan.

Digital detox sebenarnya tidak harus dimulai dengan langkah besar atau perubahan drastis. Kamu bisa memulainya dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang mudah diterapkan dalam rutinitas sehari-hari. Beberapa cara sederhana yang bisa dicoba antara lain:

  • Membatasi waktu penggunaan media sosial per hari
    Tentukan durasi yang realistis dan manfaatkan fitur pengatur waktu di ponsel agar lebih disiplin dalam mengontrol kebiasaan scrolling.
  • Mematikan notifikasi yang tidak penting
    Kurangi distraksi dengan menonaktifkan notifikasi yang tidak mendesak agar tidak terus-menerus terdorong membuka aplikasi.
  • Tidak membuka media sosial sebelum tidur atau setelah bangun tidur
    Memberi jeda dari layar di awal dan akhir hari membantu pikiran lebih tenang dan kualitas istirahat lebih baik.
  • Menentukan satu hari tanpa media sosial dalam seminggu
    Gunakan satu hari untuk beristirahat dari media sosial dan fokus pada aktivitas offline yang lebih bermakna.

Kenapa Perlu Mencoba Digital Detox?

Terlalu lama terpapar media sosial bisa membuat kita:

  • Mudah terdistraksi
    Notifikasi dan konten yang terus bermunculan membuat perhatian gampang teralihkan, bahkan saat sedang mengerjakan hal penting.
  • Sulit fokus
    Kebiasaan scrolling cepat bisa menurunkan konsentrasi, sehingga kita lebih susah bertahan pada satu tugas dalam waktu lama. Fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah zombie scrolling atau kebiasaan scrolling terus-menerus tanpa tujuan jelas.
  • Membandingkan diri dengan orang lain
    Melihat pencapaian atau gaya hidup orang lain terus-menerus bisa memicu perasaan kurang percaya diri tanpa kita sadari.
  • Merasa fear of missing out (FOMO)
    Ada dorongan untuk terus mengikuti tren agar tidak ketinggalan, yang akhirnya membuat kita sulit benar-benar beristirahat dari layar.
    Dengan digital detox, banyak orang merasakan pikiran lebih jernih, waktu terasa lebih panjang, dan interaksi di dunia nyata menjadi lebih bermakna. Bahkan, jeda sejenak dari layar bisa membantu kita kembali menikmati aktivitas sederhana seperti membaca buku, berjalan santai, atau berbincang tanpa gangguan notifikasi.

Bukan Menghilang, tapi Memberi Jeda

Digital detox bukan berarti menghilang dari dunia digital selamanya. Ini tentang menciptakan batas yang sehat antara kehidupan online dan offline. Kita tetap bisa menggunakan teknologi, tetapi dengan kontrol yang lebih sadar.

Jika akhir-akhir ini kamu merasa mudah lelah, sulit fokus, atau suasana hati sering terpengaruh oleh apa yang muncul di timeline, mungkin ini saatnya kamu mencoba digital detox, Grameds.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.