Innovation, Transformed.

Bersama Gramedia, menginspirasi Indonesia menuju masa depan yang cemerlang.

Who we are?

Gramedia berdiri pada tahun 1970, PT Gramedia Asri Media atau kerap dikenal menjadi Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group.
56 Tahun
#TumbuhBermakna
3513 Pegawai
Di seluruh Indonesia
1700+ Buku
Tercetak di Indonesia selama tahun 2024
1000+ Events
Berhasil dilaksanakan
Temukan kisah dan perjalanan kami disini!

Terus berkembang melampaui batas, membentuk masa depan yang lebih cerah melalui brand.

PT Gramedia Asri Media atau Toko Gramedia merupakan salah satu unit bisnis strategis di bawah Kompas Gramedia Group yang berfokus pada bisnis ritel dengan buku, alat tulis, produk non-books sebagai produk utamanya. Selain itu, Gramedia juga bergerak di bidang pendidikan untuk kemajuan pengetahuan di nusantara.
Pelajari lebih lanjut tentang brand

Testimonials

Apa kata mereka tentang Gramedia?
Dr. Andreas
“Senang bisa collab dengan Penerbit Gramedia, karena bisa nerima ide-ide yang unik dari penulisnya!”
Dr. Andreas, Penulis
Brian Khrisna
“Sejak kecil, saya suka banget dateng ke Gramedia dan saya termotivasi kalo suatu saat buku saya harus ada di Gramedia, dan akhirnya bisa nerbitin buku di Gramedia.”
Brian Khrisna, Penulis
Yoyok
“Promexx sudah menjalin kerjasama dengan Gramedia lebih dari 20 tahun, dan selama menjalin kemitraan kedua belah pihak mendapat benefit yang bagus.”
Yoyok, Mitra Gramedia

Latest updates

See all
Komdigi Melakukan Pembatasan Akun Medsos Anak, Saatnya Kembali ke Kebiasaan Membaca?
31 March 2026

Komdigi Melakukan Pembatasan Akun Medsos Anak, Saatnya Kembali ke Kebiasaan Membaca?

#HappeningToday — Belakangan ini, pemerintah resmi menerapkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS) pada 28 Maret 2026. Langkah ini diambil sebagai respons meningkatnya ancaman pornografi, cyberbullying, judi online, dan penipuan online yang menyasar anak-anak di bawah umur. Peraturan ini menyasar ke 8 platform besar media sosial, diantaranya adalah YouTube, TikTok, Facebook, Thread, Instagram, X, Bigo Live dan Roblox.

Kenapa Pembatasan Ini Diperlukan?

Di era digital, anak-anak semakin mudah mengakses berbagai platform hiburan. Meski menawarkan kesenangan dan interaksi, penggunaan yang tidak terkontrol dapat berdampak pada perkembangan mereka. 

Kehadiran PP TUNAS menegaskan bahwa orang tua kini tidak lagi menghadapi tantangan algoritma sendirian. Regulasi ini bertujuan untuk memastikan anak-anak Indonesia dapat tumbuh secara sehat tanpa terpapar distorsi teknologi yang berlebihan.

Beberapa hal yang menjadi perhatian antara lain paparan konten yang tidak sesuai usia, karena tidak semua konten di platform digital dirancang untuk anak-anak sehingga ada risiko mereka mengakses hal yang belum seharusnya. Selain itu, waktu layar yang berlebihan juga dapat mempengaruhi fokus, pola tidur, hingga kesehatan mental anak. Minimnya kontrol dan pendampingan dari orang tua juga menjadi faktor penting, karena tanpa pengawasan yang cukup, anak bisa dengan mudah terpapar berbagai hal yang tidak terfilter.

Tidak bisa dipungkiri, teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak pun tumbuh di lingkungan yang sangat dekat dengan gadget, internet, dan media sosial. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara hiburan digital dan aktivitas yang lebih bermanfaat. Di sinilah peran orang tua dan lingkungan menjadi sangat penting, terutama dalam mengarahkan anak pada kebiasaan yang lebih sehat.

Alternatif yang Lebih Sehat: Membaca Buku

Di tengah derasnya arus konten digital, membaca buku bisa menjadi alternatif yang lebih positif dan aman untuk anak.

Melalui buku, anak tidak hanya terhibur, tetapi juga belajar memahami cerita, mengembangkan imajinasi, serta melatih kemampuan berpikir dan berbahasa. Berbeda dengan konsumsi konten digital yang serba cepat, membaca memberikan ruang bagi anak untuk lebih fokus dan mendalami sesuatu secara perlahan.

Membangun Kebiasaan Membaca Sejak Dini

Mengalihkan perhatian anak dari gadget ke buku tentu tidak selalu mudah. Namun, kebiasaan ini bisa mulai dibangun secara bertahap, misalnya dengan:

  • Memilih buku yang sesuai dengan usia dan minat anak
  • Membacakan cerita bersama sebagai aktivitas keluarga
  • Menjadikan membaca sebagai rutinitas harian yang menyenangkan

Dengan pendekatan yang tepat, membaca tidak akan terasa sebagai kewajiban, tetapi justru menjadi aktivitas yang dinantikan.

Peringatan dari Komdigi menjadi pengingat bahwa penggunaan teknologi, terutama bagi anak-anak, perlu diimbangi dengan kontrol dan kebiasaan yang sehat.

Di tengah banyaknya pilihan hiburan digital, membaca buku tetap menjadi salah satu cara terbaik untuk mendukung tumbuh kembang anak secara lebih optimal. 

Dengan membangun kebiasaan membaca sejak dini, anak tidak hanya terhindar dari dampak negatif penggunaan gadget, tetapi juga memiliki bekal yang lebih kuat untuk masa depan.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Kenapa Frugal Living Jadi Tren di Tengah Kondisi Sekarang?
30 March 2026

Kenapa Frugal Living Jadi Tren di Tengah Kondisi Sekarang?

#LiterasiAsik — Grameds, di tengah kondisi yang serba dinamis seperti sekarang, banyak orang mulai lebih bijak dalam mengatur pengeluaran.

Belakangan ini, semakin banyak orang mulai membicarakan dan menerapkan frugal living. Di tengah berbagai perubahan kondisi ekonomi, kenaikan harga kebutuhan, hingga dorongan untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan, gaya hidup hemat ini perlahan menjadi pilihan banyak  orang. Tidak hanya orang dewasa, generasi muda pun mulai menyadari pentingnya mengatur pengeluaran sejak dini. 


Apa Itu Frugal Living?

Frugal living adalah gaya hidup yang berfokus pada penggunaan uang secara bijak dan efisien. Artinya, seseorang tetap memenuhi kebutuhan, tetapi dengan cara yang lebih sadar, terencana, dan tidak berlebihan.

Gaya hidup ini bukan berarti harus menahan diri dari semua hal yang diinginkan, melainkan lebih kepada memahami prioritas dan menghindari pengeluaran yang tidak perlu.


Kenapa Frugal Living Semakin Diminati?

Ada beberapa faktor yang membuat frugal living semakin banyak diterapkan saat ini.

1. Kondisi ekonomi yang tidak stabil
Perubahan harga kebutuhan sehari-hari, termasuk bahan bakar dan kebutuhan pokok, membuat banyak orang mulai menyesuaikan gaya hidup agar tetap stabil secara finansial.

2. Kesadaran finansial yang meningkat
Akses informasi yang semakin mudah membuat banyak orang mulai belajar tentang pengelolaan keuangan, menabung, hingga investasi.

3. Gaya hidup konsumtif yang mulai disadari
Banyak orang mulai menyadari kebiasaan belanja impulsif yang selama ini dilakukan. Frugal living menjadi cara untuk mengontrol kebiasaan tersebut.


Frugal Living
Bukan Gaya Hidup yang Pelit

Sering kali, frugal living disalah artikan sebagai gaya hidup pelit. Padahal, keduanya memiliki perbedaan yang cukup jelas.

Frugal living adalah tentang mengelola keuangan dengan bijak, sedangkan pelit cenderung menghindari pengeluaran bahkan untuk hal yang penting. Dengan frugal living, seseorang tetap bisa menikmati hidup, tetapi dengan cara yang lebih terkontrol dan sesuai kebutuhan.


Cara Memulai Frugal Living

Untuk mulai menerapkan frugal living, tidak perlu langsung melakukan perubahan besar. Beberapa langkah sederhana bisa dilakukan secara bertahap:

1. Mulai mencatat pengeluaran
Mengetahui ke mana uang digunakan adalah langkah awal untuk mengontrol keuangan.

2. Bedakan kebutuhan dan keinginan
Prioritaskan hal yang benar-benar penting dan hindari pengeluaran yang bersifat impulsif.

3. Kurangi kebiasaan kecil yang boros
Seperti jajan berlebihan atau pembelian yang tidak direncanakan.

Di tengah kondisi yang terus berubah, frugal living menjadi salah satu cara untuk tetap menjaga kestabilan finansial tanpa harus mengorbankan kenyamanan hidup.

Lebih dari sekadar tren, gaya hidup ini mengajarkan kita untuk lebih sadar dalam setiap keputusan keuangan. Dengan begitu, kita tidak hanya bisa mengelola uang dengan lebih baik, tetapi juga menjalani hidup dengan lebih tenang dan terarah.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Apa Itu Citizen Journalism? Ini Pengertian, Contoh, dan Dampaknya di Era Digital
27 March 2026

Apa Itu Citizen Journalism? Ini Pengertian, Contoh, dan Dampaknya di Era Digital

#LiterasiAsikDi era digital seperti sekarang, hampir semua orang bisa dengan mudah membagikan informasi hanya lewat satu klik. Mulai dari video kejadian di jalan, peristiwa viral, hingga opini pribadi, semuanya bisa tersebar luas dalam hitungan detik.

Tanpa disadari, banyak dari kita sebenarnya sudah menjadi bagian dari fenomena citizen journalist.

Apa Itu Citizen Journalist?

Citizen journalist adalah istilah yang merujuk pada masyarakat umum yang berperan dalam mengumpulkan, melaporkan, dan menyebarkan informasi atau berita. Perbedaan utama antara citizen journalist dan jurnalis profesional terletak pada proses kerja dan verifikasi informasi. Jurnalis profesional bekerja berdasarkan kode etik jurnalistik dan melalui proses editorial, sementara citizen journalist cenderung lebih spontan tanpa proses verifikasi yang ketat. Fenomena ini semakin berkembang seiring meningkatnya penggunaan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan platform digital lainnya.

Kenapa Fenomena Ini Semakin Muncul?

Ada beberapa faktor yang membuat citizen journalist semakin marak, di antaranya:

1. Akses teknologi yang mudah
Hampir setiap orang kini memiliki smartphone dengan kamera yang mumpuni, sehingga dapat langsung merekam dan membagikan kejadian di sekitar.

2. Kecepatan penyebaran informasi
Media sosial memungkinkan informasi tersebar dengan sangat cepat, bahkan sebelum media resmi melaporkannya.

3. Kebutuhan untuk berbagi informasi
Banyak orang merasa terdorong untuk membagikan apa yang mereka lihat, baik untuk memberi tahu, mengingatkan, maupun sekadar berbagi pengalaman.

Sisi Positif Citizen Journalist

Fenomena ini tentu memiliki berbagai manfaat, seperti:

1. Informasi lebih cepat diterima
Peristiwa di lapangan bisa langsung diketahui masyarakat tanpa harus menunggu laporan resmi.

2. Memberi ruang bagi suara masyarakat
Citizen journalist membuka peluang bagi siapa saja untuk menyampaikan perspektif dan pengalaman mereka.

3. Membantu mengangkat isu penting
Banyak kasus atau peristiwa yang menjadi viral justru berawal dari unggahan masyarakat.

Sisi yang Perlu Diwaspadai

Meski memiliki banyak kelebihan, fenomena ini juga memiliki tantangan yang perlu diperhatikan:

1. Risiko penyebaran hoaks
Informasi yang dibagikan belum tentu akurat karena tidak melalui proses verifikasi.

2. Kurangnya konteks
Potongan video atau informasi bisa disalahartikan tanpa penjelasan yang lengkap.

3. Potensi pelanggaran privasi
Tidak semua kejadian seharusnya direkam dan disebarkan ke publik.

Bijak Menjadi Citizen Journalist

Di tengah kemudahan berbagi informasi, penting bagi kita untuk tetap bijak dalam menyikapinya. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah memastikan kebenaran informasi sebelum membagikannya kepada orang lain. Selain itu, kita juga perlu menghindari penyebaran konten yang dapat merugikan pihak tertentu serta tidak membagikan informasi yang belum jelas sumber dan keakuratannya.

Fenomena citizen journalist menunjukkan bahwa kini setiap orang memiliki peran dalam menyebarkan informasi. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada tanggung jawab besar yang perlu dijaga. 

Dengan bijak dalam berbagi informasi, kita tidak hanya menjadi penyampai berita, tetapi juga bagian dari masyarakat yang lebih sadar dan bertanggung jawab di era digital.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Si Kecil Suka Film Na Willa? Ini Rekomendasi Buku Anak yang Hangat dan Penuh Imajinasi
26 March 2026

Si Kecil Suka Film Na Willa? Ini Rekomendasi Buku Anak yang Hangat dan Penuh Imajinasi

#LiterasiAsikFilm anak dengan cerita yang hangat dan penuh imajinasi seperti Na Willa sering kali menjadi favorit si kecil. Tidak hanya menghibur, cerita seperti ini juga menghadirkan pesan sederhana tentang persahabatan, keberanian, dan cara melihat dunia dengan cara yang menyenangkan.

Melalui karakter yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan alur cerita yang ringan, anak-anak diajak untuk berimajinasi sekaligus belajar memahami berbagai perasaan. Tak heran jika cerita dengan nuansa seperti ini selalu memiliki tempat tersendiri di hati mereka.

Jika si kecil menyukai cerita dengan vibe serupa, buku bisa menjadi alternatif yang tidak kalah seru. Selain melatih imajinasi, membaca juga membantu anak mengembangkan kemampuan bahasa dan memahami emosi dengan lebih baik. 

Berikut beberapa rekomendasi buku anak yang hangat dan penuh imajinasi untuk si kecil:

1. Totto-Chan: Gadis Cilik Di Jendela — Tetsuko Kuroyanagi


Buku ini menceritakan kehidupan Totto-chan, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu dan imajinasi. Melalui pengalaman sekolahnya yang unik, pembaca diajak melihat dunia dari sudut pandang anak yang jujur dan polos. Ceritanya hangat, sederhana, dan penuh makna tentang kebebasan belajar serta pentingnya memahami anak dengan cara yang tepat.

2. The Little Prince — Antoine de Saint-Exupery


Kisah tentang seorang pangeran kecil yang melakukan perjalanan ke berbagai planet ini menghadirkan cerita yang sederhana namun penuh filosofi. Dengan gaya penceritaan yang ringan dan imajinatif, buku ini mengajarkan tentang persahabatan, cinta, dan cara melihat dunia dengan hati. Cocok untuk anak yang mulai memahami makna dari hal-hal kecil dalam kehidupan.

3. Twenty-Four Eyes — Sakae Tsuboi


Novel ini mengisahkan hubungan hangat antara seorang guru dan murid-muridnya di sebuah desa kecil. Ceritanya sederhana, namun menyentuh, menggambarkan kehidupan anak-anak dengan penuh kejujuran dan kehangatan. Buku ini menghadirkan nuansa yang tenang, emosional, dan penuh makna tentang tumbuh kembang serta hubungan manusia.

4. Laskar Pelangi — Andrea Hirata


Mengangkat kisah persahabatan anak-anak di Belitung, buku ini penuh dengan semangat, mimpi, dan kehangatan. Ceritanya ringan namun inspiratif, memperlihatkan bagaimana anak-anak melihat dunia dengan penuh harapan di tengah keterbatasan. Vibenya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari dan sarat nilai positif.

5. Anne Of Green Gables — Lucy M. Montgomery


Kisah Anne, seorang gadis kecil dengan imajinasi yang sangat luas, menghadirkan cerita yang hangat dan penuh warna. Dengan kepribadiannya yang ceria dan unik, Anne membawa pembaca ke dalam dunia yang penuh imajinasi sekaligus pelajaran tentang penerimaan diri, keluarga, dan persahabatan.

Cerita yang hangat dan penuh imajinasi seperti dalam Na Willa tidak hanya bisa dinikmati melalui film, tetapi juga lewat buku. Dengan membaca, si kecil bisa menjelajahi dunia yang lebih luas, sekaligus belajar memahami berbagai hal dengan cara yang menyenangkan.

Jadi, jika si kecil menyukai cerita yang ringan namun penuh makna, tidak ada salahnya mulai memperkenalkan buku-buku di atas sebagai teman baru mereka.    


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.

Fenomena “Post-Lebaran Blues”: Kenapa Kita Sering Kehilangan Mood Setelah Libur?
25 March 2026

Fenomena “Post-Lebaran Blues”: Kenapa Kita Sering Kehilangan Mood Setelah Libur?

#LiterasiAsik — Libur Lebaran selalu identik dengan momen kebahagiaan. Mulai dari berkumpul bersama keluarga, menikmati hidangan khas, hingga merasakan suasana libur yang dinanti-nantikan. Namun, setelah semua momen tersebut berakhir, tidak sedikit orang yang justru merasa kehilangan semangat saat kembali ke rutinitas. Perasaan ini sering disebut sebagai post-Lebaran blues.

Apa itu Post-Lebaran Blues?

Post-Lebaran blues adalah kondisi psikologis sementara yang muncul setelah liburan usai. Gejalanya bisa berupa:

  • Rasa malas atau kurang energi
  • Sulit fokus saat bekerja
  • Perasaan “kosong” atau kehilangan semangat
  • Mood yang cenderung menurun
  • Meski tidak berbahaya, kondisi ini bisa mempengaruhi produktivitas jika tidak dikelola dengan baik.

Lalu, mengapa hal ini bisa terjadi?

1. Perubahan Suasana yang Drastis
Selama libur Lebaran, suasana biasanya terasa lebih santai dan menyenangkan. Waktu dihabiskan bersama keluarga, tanpa tekanan pekerjaan atau aktivitas yang padat.

Ketika libur berakhir, kita harus kembali ke rutinitas harian yang lebih terstruktur. Perubahan suasana yang cukup drastis ini membuat tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk beradaptasi kembali.

2. Rasa Kehilangan Momen
Setelah beberapa hari menikmati kebersamaan dengan keluarga, kembali berpisah bisa menimbulkan rasa kehilangan. Apalagi bagi yang merantau, momen ini sering terasa lebih berat.

Perasaan rindu yang muncul setelah Lebaran juga bisa mempengaruhi suasana hati secara keseluruhan.

3. Kehilangan Dopamin Setelah Liburan
Selama liburan, kita cenderung melakukan banyak aktivitas menyenangkan. Ketika kembali ke rutinitas, stimulasi tersebut berkurang, sehingga memicu penurunan mood.

Cara Mengatasi Post-Lebaran Blues

Meski umum terjadi, kondisi ini tetap bisa diatasi dengan beberapa langkah sederhana:

1. Kembali ke rutinitas secara bertahap
Tidak perlu langsung memaksakan diri. Mulailah dengan menata jadwal harian secara perlahan agar tubuh bisa beradaptasi.

2. Melakukan hal yang produktif
Alihkan perhatian pada hal-hal produktif yang bisa membuat kamu kembali merasa termotivasi seperti olahraga, membaca buku atau bertemu dengan teman.

3. Tetap jaga koneksi dengan keluarga
Meski sudah kembali ke aktivitas, komunikasi dengan keluarga bisa tetap dilakukan melalui telepon atau video call.

Perasaan kehilangan semangat setelah libur Lebaran adalah hal yang wajar dan bisa dialami oleh siapa saja, Grameds. Hal ini bukan berarti kamu malas, tetapi lebih kepada proses penyesuaian diri setelah menikmati momen istirahat yang cukup panjang.

Dengan memahami penyebabnya dan mengelolanya dengan baik, kamu bisa kembali menemukan ritme dan semangat untuk menjalani aktivitas sehari-hari.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.