BookTok: Tren Sesaat atau Gerakan Literasi Baru?

19 February 2026
BookTok: Tren Sesaat atau Gerakan Literasi Baru?
BookTok membuktikan bahwa literasi bisa tumbuh dari media sosial.

#LiterasiAsik — Beberapa tahun terakhir, tagar #BookTok menjadi salah satu fenomena yang mencuri perhatian di TikTok. Melalui video berdurasi singkat, para kreator membagikan ulasan buku, reaksi emosional setelah membaca, hingga rekomendasi bacaan yang dianggap “wajib baca”. Tidak jarang, buku yang viral di BookTok langsung mengalami lonjakan penjualan dan menjadi perbincangan luas di media sosial.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan menarik: apakah BookTok sekadar tren viral media sosial, atau justru menjadi gerakan literasi baru di era digital?

Ketika Buku Menjadi Konten yang Relatable

Berbeda dengan ulasan buku konvensional, konten BookTok dikemas secara ringkas, ekspresif, dan personal. Banyak kreator membagikan pengalaman membaca dengan cara yang lebih emosional dan relatable. Pendekatan ini membuat buku terasa lebih dekat, terutama bagi generasi muda yang akrab dengan media sosial.

Algoritma TikTok yang memungkinkan konten menyebar dengan cepat juga berperan besar dalam menjadikan sebuah judul viral dalam waktu singkat. Buku-buku lama yang sebelumnya kurang dikenal pun dapat kembali diminati setelah muncul di for you page (FYP).

Hadirnya fenomena BookTok ini membuka ruang baru bagi literasi untuk hadir di platform yang sebelumnya identik dengan hiburan ringan. Membaca tidak lagi dipandang sebagai aktivitas yang kaku, melainkan sesuatu yang dapat dibagikan, didiskusikan, dan dirayakan bersama.

Dampak Positif bagi Minat Baca

Salah satu dampak paling terlihat dari BookTok adalah meningkatnya ketertarikan terhadap buku di kalangan generasi muda. Banyak pengguna yang mengaku mulai membaca kembali karena terinspirasi oleh rekomendasi yang mereka temui di TikTok.

BookTok juga mendorong munculnya komunitas pembaca yang aktif berdiskusi, berbagi opini, dan saling merekomendasikan bacaan. Interaksi ini menciptakan ekosistem literasi digital yang lebih terbuka dan partisipatif.

Bagi industri perbukuan, fenomena ini menjadi peluang untuk menjangkau audiens baru melalui pendekatan yang lebih sesuai dengan kebiasaan konsumsi media saat ini.

Risiko Tren Viral: Membaca karena FOMO

Meski demikian, ada hal yang perlu disadari. Tidak semua buku yang viral akan cocok untuk setiap pembaca. Tren buku yang bergerak cepat juga berpotensi mendorong keputusan membaca yang didasari rasa penasaran sesaat atau fear of missing out (FOMO).

Di sinilah pentingnya kesadaran pribadi dalam memilih bacaan. BookTok dapat menjadi pintu masuk untuk menemukan buku baru, tetapi pengalaman membaca tetap bersifat personal. Menikmati buku secara utuh membutuhkan waktu, refleksi, dan kecocokan dengan minat masing-masing.

BookTok: Tren Sesaat atau Gerakan Baru?

Apakah BookTok akan bertahan lama? Jawabannya mungkin bergantung pada bagaimana pembaca memaknainya. Jika hanya mengikuti arus viral, tren ini bisa saja meredup seiring waktu. Namun, jika dimanfaatkan sebagai ruang berbagi dan memperluas akses terhadap bacaan, BookTok berpotensi menjadi bagian dari gerakan literasi digital yang lebih luas.

Kehadiran BookTok menunjukkan bahwa literasi mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Platform boleh berubah, format boleh berbeda, tetapi semangat untuk membaca dan berbagi cerita tetap menjadi inti yang tak tergantikan.


Gramedia senantiasa menjadi ruang berkarya dan bertumbuh bagi para pecinta literasi dalam menghadirkan karya-karya bermakna untuk pembaca. Yuk, gabung bersama komunitas Gramedia Writers and Readers Forum untuk terhubung lebih dekat dengan dunia literasi dan kepenulisan melalui tautan di bio Instagram @gwrf.id.